Rombongan anak SAD ini didampingi Temenggung Lintas dan Jenang Mustapa yang merupakan kepala kampung dan kepala suku SAD Kecamatan Bathin VIII.
Menurut imformasi yang diperoleh, SDN 89 yang beralamat di Desa Pulau Lintang-Bathin VIII memiliki siswa sekitar 80 orang, dalam mengikuti karnaval (pawai) tidak memakai kostum karnaval seperti siswa sekolah pada umumnya, mereka hanya memakai baju pramuka dan merah putih seragam sekolah dan kebanyakan memakai pakaian sehari hari dan ada yang sempat tanpa memakai alas kaki, namun setelah berjalan sekitar 500 meter dibawakan sendal jepit oleh Jenang Mustapa, yang menjadi pemandu iring-iringan anak SAD itu.
Namun, dengan segala keterbatasan itu, anak-anak dari kelompok suku minoritas yang bedomosili di Kabupaten Sarolangun- Jambi ini, sudah bersekolah, berbeda dengan para orang tua mereka yang tidak mengenyam pelajaran di bangku pendidikan.
"Baru anak kami lah yang sekolah, yang akan menyicip pendidikan, kalau kami belum," kata Jenang Mustapa kepada media ini di tengah barisan karnaval itu.
Ketika ditanya bagaimana anak SAD tersebut berpakaian seragam di sekolah, Jenang Mustapa menyebutkan hanya sebagian yang memiliki seragam.
"Sebagian bae yang lengkap pak, Pramuka, Merah pitih, olah raga dan batik, itu pun tidak semuanya", sebut Jenang Mustapa.