MOSKOW – Kementerian Pertahanan Rusia memperingatkan bahwa diduga akan ada tindakan provokasi besar-besaran yang dilakukan dengan menggunakan senjata kimia yang dilakukan di Suriah dalam dua hari mendatang. Tindakan provokasi itu diyakini akan dilakukan dengan keterlibatan dari pihak asing.
"Menurut informasi yang diterima oleh Pusat Rekonsiliasi Rusia untuk Suriah hari ini dari penduduk Idlib, para spesialis asing (yang berbahasa Inggris) tiba di pemukiman Hbit yang terletak di sebelah selatan zona de-eskalasi Idlib merancang sebuah ‘serangan kimia’ menggunakan misil yang diisi dengan klorin,” demikian disampaikan Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov sebagaimana dilansir TASS, Senin (27/8/2018).
BACA JUGA: Rusia Klaim Miliki Bukti Tak Terbantahkan Ada Rekayasa Serangan Kimia di Douma
Berdasarkan keterangan Konashenkov, serangan yang diarahkan ke pemukiman Kafr Zayta itu akan dilakukan menggunakan peluncur roket dalam waktu dua hari mendatang. Konashenkov mengatakan, sekelompok penduduk telah dipindahkan ke Kafr Zayta dan saat ini tengah dipersiapkan untuk ambil bagian dalam rekayasa ‘serangan kimia’ itu.
Kelompok-kelompok penduduk itu akan difilmkan sehingga tampak menderita efek senjata kimia dan kemudian ditampilkan di media berbahasa Timur Tengah dan Inggris.
Dia menuduh tindakan provokasi itu merupakan ulah dari pihak-pihak asing yang memiliki kepentingan dan ingin mempertahankan situasi kacau di Suriah.
"Dengan demikian, pasukan ekstra-regional yang berkepentingan sekali lagi mempersiapkan provokasi besar di Suriah menggunakan zat beracun untuk membuat situasi tidak stabil dan mengganggu dinamika berkelanjutan dari proses perdamaian yang sedang berlangsung," ujarnya.
BACA JUGA: Tim PBB Diserang Saat Datangi Lokasi Serangan Kimia di Douma
Kementerian Pertahanan menuduh Amerika Serikat, Inggris dan Prancis akan menggunakan serangan yang direncanakan itu sebagai alasan untuk meluncurkan serangan udara terhadap Suriah. USS Sullivan, kapal perusak kelas Arleigh Burke yang dilengkapi dengan rudal pemandu Aegis milik AS dilaporkan telah berada di Teluk Persia beberapa hari yang lalu.
Sebelumnya, pada 22 Agustus, Penasihat Pertahanan Nasional AS, John Bolton memperingatkan bahwa AS akan bertindak dengan sangat keras jika Pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia.
(Rahman Asmardika)