Suu Kyi 'Seharusnya Mundur' Karena Kekerasan Terhadap Muslim Rohingya

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Jum'at 31 Agustus 2018 10:01 WIB
Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi. (Foto: Reuters)
Share :

JENEWA - Kepala badan HAM PBB, Zeid Ra'ad al Hussein mengatakan pemimpin de-facto Myanmar Aung San Suu Kyi sepantasnya mengundurkan diri terkait operasi militer penuh kekerasan terhadap minoritas Muslim Rohingya tahun lalu.

Zeid Ra'ad al Hussein yang akan habis masa jabatannya itu mengatakan kepada BBC bahwa pemenang hadiah Nobel Perdamaian itu seharusnya mempertimbangkan untuk kembali masuk tahanan rumah ketimbang membela langkah militer.

Sebuah laporan PBB baru mengatakan militer Myanmar harus diselidiki untuk tuduhan genosida. Myanmar menolak laporan yang mereka sebut berat sebelah.

Tentara dari negara mayoritas Buddha itu dituduh melakukan pembersihan etnis secara sistematis, namun mereka sudah berulang kali menyatakan tak melakukan hal-hal yang dituduhkan.

Laporan PBB yang diterbitkan pada Senin, 27 Agustus menyebut Suu Kyi, yang sejak lama memimpin gerakan pro-demokrasi negeri itu saat dikuasai junta militer, tidak berbuat apa-apa untuk mencegah kekerasan.

"Dia berada dalam posisi untuk melakukan sesuatu," kata Hussein dalam wawancara dengan wartawan BBC Imogen Foulkes. "Dia bisa diam saja—atau bahkan lebih baik, dia bisa mengundurkan diri."

"Dia tidak perlu menjadi juru bicara militer Burma. Dia tidak harus mengatakan semua itu adalah gunung es salah informasi, bahwa semua (kekerasan itu) adalah rekayasa," katanya.

"Dia bisa mengatakan bahwa, 'Saya siap menjadi pemimpin di balik layar saja tetapi tidak dalam kondisi seperti ini. Jadi terima kasih banyak, saya akan mengundurkan diri, saya akan kembali ke tahanan rumah. Saya tidak bisa menjadi perhiasan saja sebagaimana mungkin disangka orang tentang pelanggaran-pelanggaran (hukum dan HAM) ini."

Antara tahun 1989 hingga 2010, Suu Kyi, yang kini berusia 73 tahun, menghabiskan sekitar 16 tahun di bawah tahanan rumah pemerintah militer.

Pada Rabu kemarin, menanggapi desakan dari berbagai kalangan HAM, komite Nobel mengatakan bahwa hadiah Nobel perdamaian yang diberikan tahun 1991 terhadap Suu Kyi tidak dapat dicabut.

Apa yang dikatakan Aung Sun Suu Kyi?

Suu Kyi memang diketahui tidak menguasai militer, namun dia didesak masyarakat internasional untuk setidaknya mengutuk dugaan kebrutalan tentara.

Selama beberapa dekade, ia dielu-elukan sebagai pahlawan komunitas hak asasi manusia—terutama untuk daya tahannya sebagai tahanan rumah akibat aktivitas pro-demokrasi yang dilakukannya selama kediktatoran militer yang brutal.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya