JAM dinding rumah Ajad Sudrat di Jalan Bekasi Timur, Gang I, Kelurahan Rawa Bunga, Jatinegara, Jakarta Timur, sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kamis 18 Oktober lalu, pria tunanetra itu sudah seharian menunggu pelanggan yang ingin menggunakan jasa pijatnya, tapi hingga magrib tiba tak ada satu pun yang datang.
Bosan di dalam, Ajad ke luar lalu berdiri di pintu yang di atasnya terpampang plang yang mulai berkarat bertulis 'Klinik Pijat Tunanetra Bang Ajat'. Tak juga ada yang datang atau menghubunginya untuk meminta layanan pijat.
"Pasien itu sekarang rata-rata sehari dua pun enggak, kemarin saja saya kosong, hari ini belum ada sama sekali juga," ungkap Ajad saat Okezone menyambangi rumahnya yang tak jauh dari Stasiun Jatinegara.
Ajad bersama istrinya yang juga tunanetra tinggal di rumah sederhana itu, saling melengkapi memenuhi kebutuhan hidupnya. Meski penglihatannya tak sempurna, Ajad tak putus asa menjalani hidup. Ia tetap semangat dan enggan mengemis.
Maka, bersama sang istri, Ajad patungan modal membuka panti pijat di rumah kecilnya yang disekat tiga, untuk kamar dan dapur.
Ajad Sudrat berdiri di rumahnya (Rizky/Okezone)
Salah satu ruangannya digunakan khusus untuk melayani pelanggan yang ingin pijat. Di situ ada ranjang, kasur, bantal yang empuk dan bersih, lengkap dengan kursi plus meja plastik. Kemudian botol minyak urut dan telepon.
Ajad sudah menjadi tukang pijat sejak 1996 atau selisih tiga tahun dari sang istri yang kemudian mengikuti jejaknya. Jika Ajad melayani pijat pelanggan laki-laki, sang istri khusus memijat pasien perempuan.
Sulit bersaing
Ajad bukan tukang pijat sembarang. Dia sudah mengantongi sertifikat usai lulus kursus ilmu massage selama 1,5 tahun di Panti Sosial Bina Netra Cahaya Batin. Dia sudah memahami anatomi, fisiologi, fatologi, dan tofografi manusia. Titik-titik yang harus dipijat untuk kebugaran pelanggan sudah dia hapal.
Pada era tahun 1990-an, pijat tunanetra sempat Berjaya. Ajad turut merasakannya di mana saban hari dia terus didatangi pelanggan yang memakai jasanya. Banyak rekan seprofesinya yang bisa membangun rumah dari hasil usaha pijat.
“Banyak senior saya yang udah buka pijatnya di bawah tahun 90-an itu udah punya rumah karena hasil (pijat) bisa menguliahkan anaknya,” ujarnya.
Tapi, memasuki era tahun 2000-an, kondisinya berubah. Jasa refleksi, spa, boddy massage atau pijat dengan fasilitas lebih modern dan serba lengkap menjamur di Jakarta, mulai ‘menenggelamkan’ jasa panti pijat tunanetra.
Pijat modern atau refleksi dengan fasilitas wah dan terapis cantik kini jauh lebih digandrungi orang banyak. Belum lagi ada aplikasi pijat atau layanan pijat online yang pemesanannya serba mudah. Lengkap sudah penderitaan Ajad dan kawan-kawan.
Pemilik panti pijat tunanetra seperti Ajad yang bergerak dengan modal pas-pasan tentu sulit bersaing dengan usaha pijat modern milik manusia berfisik normal berkantong tebal. Meski sudah banting harga, tapi tetap saja sepi.
Ajad mengakui bahwa keahlian pijat tunanetra seperti dirinya tak kalah dengan terapis-terapis di usaha-usaha refleksi modern. "Dari kemampuan itu kita sebetulnya di atas rata-rata cuma dari sisi kemasan memang kita kalah," terangnya.
Tapi, meski sulit, Ajad tetap bertahan di tengah gempuran sekalipun sehari kadang tak satu pun pelanggan yang datang menggunakan jasanya. Dia belum mau pensiun dari dunia pijat karena yakin rezeki sudah diatur oleh Allah.
Pijat tunanetra ternyata tetap ada yang meminati. Salah satunya adalah, Mayang, pelanggan tetap Ajad. Pria itu mengaku lebih memilih panti pijat tunanetra karena layanannya lebih memuaskan. Mayang yang tinggal di Tangerang rela datang ke Jatinegara untuk mendapatkan servis Ajad.
"Sebulan sekali dateng ke sini," tukasnya.
Bonis (Rizky/Okezone)
Bonis (58), rekan seprofesi Ajad juga mengeluh sepinya pelanggan akhir-akhir ini. Bonis bersama tiga orang rekannya kini bekerja di panti pijat tunanetra binaan Dinas Sosial DKI Jakarta di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.