Panti pijat tersebut lebih luas dan rapi tertata ketimbang milik Ajad. Ada tiga ruangan pijat yang nyaman untuk pelanggan. Sehari rata-rata ada tiga hingga empat pelanggan yang mijit di panti aset pemerintah yang pekerjanya para tarapis tunanetra tersebut.
Bonis yang sudah menggeluti pijat sejak 1994 mengakui jika pelanggan tetap mereka kini terus menyusut. Dulu saat pijat tunanetra masih banyak diminati, pelanggannya mencapai 300 orang. "Sekarang jauh turun paling hanya 100."
Satu di antara pelanggan Bonis adalah almarhum Mayjen Slamet Kirbiantoro saat masih menjabat Pangdam Jaya.
"Setahun saya mijet dia. Seminggu dua kali, biasanya di rumahnya kalau enggak di Kodam (Jaya). Itu pengalaman, saya jadi bisa masuk dan melihat ruang pribadi Pangdam, itu pengalaman sekali," tukasnya.
Turun ke jalan
Ajad Sudrat yang juga Wakil Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) DKI Jakarta mengatatakan akibat kesulitan bersaing, satu per satu panti pijat tunanetra harus gulung tikar. Pemilik dan pekerjanya terpaksa banting setir, mengais rezeki di jalanan.
"Ada yang jual suara di jalan, ada mereka yang jual kerupuk terutama di Jakarta Barat, Jakarta Selatan," terangnya.
Pertuni mencatat tahun 2000, ada 275 panti pijat tunanetra di Jakarta dan sekarang sudah berkurang 60 persen. “Kurangi saja dengan 60 persen, itu yang terdaftar belum yang tidak terdaftar,” ujar Ajad.
Data Pertuni, di Jakarta Pusat kini masih ada 28 panti pijat tunanetra, di Jakarta Utara ada 40 panti, Jakarta Barat ada 20 panti dan Jakarta Timur 50 panti.
"Kalo Jakarta Timur itu paling banyak karena pasarnya paling lumayan, kalo Jakarta Barat peminatnya sudah sepi," terangnya.
Panti pijat tunanetra sulit bertahan juga disebabkan minimnya perhatian pemerintah.
Ajad berharap pemerintah lebih peka terhadap kelanjutan hidup para tunanetra yang kini sulit mendapatkan pekerjaan jika panti pijatnya tak diberdayakan.
"Yang kita minta itu selain memberi bantuan ada pemantauan juga dari pemerintah terus dibantu juga dari sisi pemasaran,” katanya.
(Salman Mardira)