Fenomena Vloger Gandrungi Milenial
Catatan tahun ini menunjukkan bahwa terdapat puluhan Gold Creator di Indonesia ketimbang tahun lalu. Hal ini membuktikan bahwa generasi muda saat ini tampak berlomba-lomba untuk menjadi vlogger.
Apakah alasan yang mendasari seseorang bisa berkecimpung dengan aktivitas vlog. Menurut Damar Juniarto, Pengamat Media Sosial, salah satu alasan mengapa vlogger digandrungi ialah bahasa visual seperti video yang dinilai lebih menarik.
“Saya pikir jawabannya bisa macam-macam ya kalau ditanya. Tetapi kebanyakan menjadi vlogger karena memang bahasa visual lebih menarik daripada penyampaian pesan lewat cara lain semisal tulisan atau gambar,” jelas Damar Juniarto, Pengamat Media Sosial kepada Okezone.com.
Lebih lanjut ia mengatakan, teknologi rekam yang melekat pada ponsel memudahkan seseorang merekam dirinya sendiri sehingga biayanya jauh lebih ekonomis dibanding dengan zaman ketika perekaman dilakukan dengan videocam.
“Alasan kedua, bisa jadi karena ada iming-iming ketenaran dan juga uang yang bisa didapatkan dari hasil ketenaran itu. Platform-platform video berlomba-lomba memberi uang bila mencapai sekian ratus ribu viewers,” tuturnya.
Ciptakan Konten Berkualitas
Vlog bisa dikemas agar lebih menarik dengan teknik pengeditan video. Namun, pengeditan video bukan satu-satunya unsur yang menarik minat audiens. Isi video yang disampaikan juga harus memiliki pesan atau informasi yang berguna bagi audiens.
Victor Samuel Lukman, YouTuber JWestBros mengatakan bahwa pihaknya tidak memusingkan untuk mendapatkan subscriber baru. "Lebih fokusnya sekarang bikin konten yang bagus. Apa yang orang apresiasi kita happy, udah gitu aja," kata Victor.
Sekadar informasi, JWestBros memiliki 149 ribu subscriber dan fokus di bidang food dan travel.
"Kalau lihat konten-konten kita, kita pengen share aja sih mau ke mana mau makan apa, kita kayak lebih fokus untuk kita kasih. Kan sekarang banyak banget orang nonton YouTube, kalau sekarang orang nonton konten bodoh, berarti kan semua orang jadi bodoh. Jadi kita pertahanin bikin konten bisa ditonton dan kasih impact ke orang sih, dibanding cuman haha hihi tok udah gitu, kasian aja sih kita sama yang nonton. Kalau gak ada yang mulai siapa lagi," kata Andy Garcia, personil JWestBros.
Victor menambahkan bahwa pihaknya ingin memberikan konten yang berkualitas. "Terus kalau YouTube kan gak semua anak kecil ya yang nonton, pengen ngasih acara yang orang-orang yang suka sama konten yang bagus saja sih. People deserve to watch a good content," terangnya.
Atta Halilintar, YouTuber dengan subscriber 5,9 juta mengatakan jika saat ini penonton YouTube di Indonesia memasuki fase ketagihan. Sehingga, lanjut dia, kreator yang paling konsisten otomatis mampu mendapatkan banyak view yang banyak.
“Saking banyaknya creator di Indonesia, kalau upload-nya 2 bulan sekali orang akan lupa. Tapi kalau dia (creator) upload terus akan banyak mendapatkan view," kata Atta saat ditemui di acara konferensi pers YouTube FanFest 2018 di Double Tree by Hilton, Jakarta.
Oleh karena karya vlog harus bisa menarik perhatian audiens atau netizen, maka video yang diciptakan harus memiliki daya tarik.
Damar Juniarto, Pengamat Media Sosial mengungkapkan bahwa dampak positif yang bisa didapat dari vlog ialah mendukung kreativitas, melatih dan mengasah keterampilan berkomunikasi lewat video, melatih manajemen waktu dan uang serta mengarahkan ke penyampaian pendapat yang bertanggungjawab.
Selain dampak positif vlog, terdapat pula dampak negatif yang bisa ditimbulkan. “Bila apa yang disampaikan tidak dikemas dengan baik pesannya bisa mudah menimbulkan salah paham dan konflik,” ujar Damar.
Tidak hanya itu, vlog dinilai membangun subjektivitas yang sempit sehingga jauh dari semangat mendengarkan orang lain dan hal yang bisa dirasakan vlogger ialah bila jenuh berkarya dan minim respon dapat menimbulkan rasa frustasi.
(Ahmad Luthfi)