Pasar Malam Roma Malang: Berubah dari Konsep hingga Menggangu Warga Sekitar

Avirista Midaada, Jurnalis
Sabtu 17 November 2018 17:04 WIB
Salah satu pedagang Pasar Rombeng Malam (Roma), Malang, Jawa Timur. Foto: Okezone/Avirista
Share :

KOTA MALANG - Perkembangan pesat salah satu pasar malam di Kota Malang, yakni Pasar Rombeng Malam atau yang dikenal dengan Roma, ternyata tak selamanya mulus.

Riak-riak kecil mulai terlihat dan terasa di pasar yang terletak di sepanjang Jalan Gatot Subroto, Kota Malang.

Keluhan warga Kelurahan Jodipan salah satunya. Meskipun secara wilayah, Pasar Roma berada di wilayah Kelurahan Jodipan, sebagian warganya justru mengeluhkan keberadaan pasar ini.

Salah seorang warga Jodipan, Achmad Choirida mengeluh adanya dampak kemacetan dari pasar yang selalu buka di atas pukul18.00 WIB.

"Jalannya macet, kalau jalan kaki di sekitar situ sekarang susah karena trotoarnya dipakai setengah lebihnya," ujar pria yang akrab disapa Farid saat ditemui Okezone, Jumat (16/11/2018) di Kantor Kelurahan Jodipan.

 

Ia bercerita pasar saat ini sudah didominasi kaum pendatang tak seperti dahulu yang banyak dijumpai warga Malang.

Penggagas Pasar Roma, Rosidi mengakui bahwa konsep dari Pasar Roma saat ini sudah jauh berbeda dari konsep yang ia rintis bersama 6 orang penjual lainnya pada medio 1980-an.

"Lapak kami semula setengah trotoar artinya pengguna jalan bisa melewati dan tidak menutup trotoar bahkan tak ada yang memanfaatkan baju jalan," ungkap Rosidi.

 

Padahal menurut Rosid, bahu jalan yang digunakan lapak pedagang merupakan jalur provinsi di mana ini merupakan akses ke kabupaten tetangga.

Pihaknya juga menyayangkan temuannya terkait sewa-menyewa lahan parkir yang sepi menjadi lapak semi permanen pedagang.

"Ketika menjadi area wisata menjadi komoditi maka muncul lah parkir. Di sinilah kenakalan mulai terjadi kalau parkir sepi, lahan parkir di bahu jalan itu disewakan untuk lapak pedagang. Lahan parkirnya disewakan untuk lapak. Itu terjadi kok," tegasnya.

Ia menceritakan susahnya mengatur para pedagang untuk bisa tertib. Misalnya dalam hal penyediaan akses keluar masuk bagi pemilik ruko di sekitar Jalan Gatot Subroto tersebut.

"Sekarang warga yang punya mobil di sana tidak bisa parkir. Saya kasihan sekali karena tidak bisa parkir. Ada lahannya tapi dimanfaatkan orang lain. Memang ada keluhan dari masyarakat," terang Rosid.

 

Bahkan Rosid menyebut para pedagang begitu sulit diatur karena kebanyakan dari mereka berasal dari luar Kota Malang.

"Saya sebagai salah satu yang dulu pernah menggagas Pasar Roma itu menyayangkan melihatnya. Saya sekarang sudah tidak berusaha di sana lagi. Tapi menyayangkan dengan kondisi yang seperti itu yang tidak bisa diatur, kalau diatur demo," keluh pria yang juga Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LMPK) Jodipan.

Sosiolog Universitas Brawijaya, Ucca Arawindha melihat permasalahan sosial pasar tradisional di manapun pasti memunculkan kerentanan konflik.

"Dimana-mana pasar tradisional itu rentan konflik sosial baik antara pedagang dengan pengembang, pedagang dengan masyarakat sekitar, atau pedagang dengan pedagang. Itu pasti ada," jelas perempuan yang juga dosen di Jurusan Prodi Sosiologi, FISIP, Universitas Brawijaya ini.

Maka untuk meminimalkan hal tersebut, Ucca meminta pemerintah membuat regulasi yang jelas dalam penaatan pasar tradisional.

"Jangan sampai penataan pasar tradisional justru menimbulkan konflik baru. Maka regulasinya harus jelas dulu sebelum melangkah," tegasnya.

 

Namun ia kembali mengingatkan regulasi yang dibuat harus benar-benar diterapkan di lapangan.

"Jangan sampai regulasi peraturan itu hanya hitam di atas putih saja. Harus bisa diimbangi implementasi di lapangan yang sesuai. Selain itu perlu adanya pengawasan yang konsisten," tukasnya.

Di sisi lain Bidang Pengelolaan Pasar Rakyat, Dinas Perdagangan (Disdag) selaku pengelola pasar tradisional di Kota Malang, masih enggan menanggapi persoalan yang ditemukan okezone di lapangan.

 

Memang dari segi kerawanan konflik sosial, Pasar Roma cukup adem. Namun gejolak-gejolak sosial, terlebih sebagian besar pedagangnya merupakan pendatang bisa saja terjadi bila seluruh stakeholder baik masyarakat sekitar pasar, para pedagang, aparat keamanan, dan instansi terkait dari pemerintah, tidak intens berkomunikasi.

Jangan sampai pasar rakyat yang selama ini menjadi kekuatan perputaran perekonomian di kalangan menengah ke bawah, menjadi korban dari suatu kebijakan regulasi yang awalnya dibuat untuk mengelola pelaku-pelaku pasar tradisional itu sendiri.

(Rachmat Fahzry)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya