JAKARTA - Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmita mengajak milenial generasi penerus bangsa untuk menjadi pelopor perdamaian, pelopor aktualisasi nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Indonesia semakin berjaya kedepannya.
"Di era milenial ini, penetrasi dampak globalisasi menjadi semakin kuat seiring semakin meningkatnya tingkat kemajuan teknologi informasi. Informasi begitu mudah diakses oleh semua orang dan mengubah perilaku generasi muda yang lahir dari tahun 1980. Merekalah yang kita kenal sebagai generasi milenial, generasi yang tumbuh di tengah-tengah era globalisasi," kata Agus Gumiwang dalam keterangannya, Jumat (30/11/2018).
Ia mengatakan, arus globalisasi dan teknologi informasi yang sangat cepat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara pandang, budaya, dan gaya hidup di kalangan generasi milenial saat ini.
(Baca juga: Sambangi KPK, Mensos Agus Gumiwang Minta Wejangan Agar Tak Terjerat Korupsi)
"Karakteristik generasi milenial sendiri mungkin berbeda-beda ditentukan oleh daerah dan kondisi sosial-ekonomi. Namun, secara umum karakter mereka dibentuk oleh keakraban mereka dengan teknologi," sambungnya.
Kata dia, teknologi menggeser aktivitas mereka yang awalnya dilakukan di dunia nyata ke dunia maya. Implikasi sosialnya, ada kecenderungan kalangan generasi milenial menjadi asosial karena asyik berkutat dengan gawai yang menyediakan banyak hal secara cepat.
"Hal yang bernuansa lokal seakan menjadi sesuatu yang usang atau ketinggalan zaman. Kondisi tersebut menyisipkan pesan tentang pentingnya kearifan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi agar kemampuan untuk bersosialisasi dan beradaptasi dengan budaya lokal tidak tumpul," katanya.
(Baca juga: Berhasil Mandiri, Warga Gianyar Ini Keluar dari Kepesertaan PKH)
Dikatakan Mensos, kearifan lokal merupakan salah satu pembentuk identitas bangsa Indonesia dan generasi milenial adalah penerus bangsa. "Kearifan lokal yang sejak dulu menjadi identitas bangsa jangan sampai terkikis oleh budaya global yang masuk seiring berkembangnya kemajuan teknologi," tuturnya.
Dikatakan Mensos, kearifan lokal di Indonesia merupakan salah satu pilar penting bagi terciptanya harmoni hubungan antarmasyarakat, termasuk dalam pemanfaatan sumber daya alam agar tidak menimbulkan konflik sosial.
Sementara itu, Di Minangkabau dikenal Tungku Tigo Sajarangan yang merupakan model kepemimpinan yang menjadi perekat harmoni kehidupan masyarakat. Masyarakat Dayak di Kalimantan Barat mengucapkan salam pembuka dengan kalimat “Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata” yang bermakna persaudaraan satu sama lain meskipun tidak saling kenal. Masyarakat Sunda memiliki tradisi Beas Perelek dan filosofi silih asah, silih asih, dan silih asuh, sementara masyarakat Bugis memiliki ungkapan “mali si parappe, rabha si patokkong”.
Kemudian ada tradisi Rembug Pekon di Lampung, Pokadulu di Sulawesi Tenggara, Awig-Awig di Bali dan Lombok Barat, Hompongan di Jambi, Sasi di Maluku, Pamali Mamancing Ikan di Maluku Utara, Mapalus di Minahasa, Moposad Dan Moduduran di Bolaang Mongondow, Bersih Deso dan Wewaler di Jawa Timur, dan banyak kearifan lokal lain yang tidak dapat saya sebut semua di sini.
"Indonesia memiliki simpul kearifan-kearifan lokal yakni Pancasila. Nilai-nilai Pancasila yang telah ada sejak dulu harus terus diimplementasikan sebagai dasar berperilaku masyarakat Indonesia. Jika kita yakin nilai-nilai Pancasila dapat mengantar kita menuju kemajuan bangsa dan nasional, maka secara konsisten kita harus mengamalkan seluruh sila Pancasila," pungkasnya.
(Awaludin)