CIREBON - Saat itu, Minggu 30 Desember 2018, Dayanti (26) dan sang suami Suheryanto (38) tetap melakukan aktifitas seperti biasanya, tak ada keanehan apapun, hanya perasaan senang yang dirasakannya, meski awan hitam yang kerap disebut cumulonimbus itu sejak pukul 15.00 WIB sudah menyelimuti wilayah Desa Panguragan Kulon, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Di rumah yang baru berdiri sekitar enam bulan tersebut, ia beserta keluarganya yang berjumlah sekira 9 orang, saling berinteraksi. Kala itu, selain Herdiyanto (4) anak pertamanya, kehadiran anak keduanya yang baru menginjak umur enam hari, menjadi pusat kebahagian sekaligus pemecah kesunyian di dalam kediamannya.
(Baca Juga: Cirebon Diterjang Puting Beliung, 1 Orang Balita Tewas hingga 165 Bangunan Hancur)
Pada pukul 15.30 WIB, awan cumolonimbus kian menyebar menutupi langit biru di Desa Panguragan Kulon. Sehari sebelumnya atau pada Sabtu 29 Desember, BMKG Stasiun Jatiwangi memprediksi cuaca buruk akan menimpa kawasan Cirebon dan sekitarnya.
Lalu sekira pukul 16.00 WIB, anak kedua Dayanti yang lahir bertepatan dengan perayaan Natal itu, mulai menangis kencang. Kebahagian yang hadir di tegah-tengah keluarga kecil tersebut perlahan sirna, dengan datangnya angin puting beliung berkecepatan 80-100 KM per jam.