“Berdasarkan episenter kedalaman dan bentuk gelombang, maka dapat disimpulkan aktivitas vulkanik tersebut berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak 22 Desember 2018,” katanya.
(Baca Juga : Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi, Semburkan Abu Setinggi 1.500 Meter)
Triyono memaparkan, sejak Tsunami melanda Selat Sunda (22/12/2018) hingga Kamis (4/1), hasil monitoring InaSEIS BMKG telah menentukan paramater 11 aktivitas gempa vulkanik di Gunung Anak Krakatau.
Pihaknya mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak mampu dipertanggungjawabkan kebenarannya. Informasi resmi hanya bersumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang disebarluaskan melalui kanal-kanal komunikasi terverifikasi.
(Baca Juga : Erupsi Gunung Anak Krakatau Terlihat Jelas di Kota Cilegon)
(Erha Aprili Ramadhoni)