“Menjadi kelaziman bahwa pihak yang berkompetisi dalam pemilu memanfaatkan media untuk mengkampanyekan pandangan politiknya atau aspirasinya,” kata Abdul.
Abdul menyarankan, kepada pihak yang tidak suka dengan tabloid Indonesia Barokah, harus fokus pada isi, apakah mengandung tulisan kebohongan atau tidak.
“Menurut saya, orang yang tidak senang dengan tabloid itu bisa mempersoalkan ke substansi. Apakah informasi yang dimuat itu informasi yang faktual atau berita bohong. Itu langkah lebih baik yang bisa dilakukan untuk menilai tabloid itu,” tuturnya.
(Rachmat Fahzry)