Dalam penelitiannya, ada dua indikator yang digunakan untuk menentukan breeding place, yaitu hygiene risk index dan breeding risk index. Dengan hygiene risk index dapat diketahui jumlah kontainer yang potensial menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
Sedangkan breeding risk index, mengkaji tentang seberapa banyak kontainer di dalam ruangan. “Kalau semakin banyak kontainer yang potensial, maka daerah tersebut akan menjadi high risk untuk ledakan kasus. Sebelum ada kasus, dengan maya index kita bisa prediksi,” ujar peneliti nyamuk ini.
Seperti di Klungkung dan Gianyar bisa ia tebak. Di sana banyak jentik, namun tidak ada kasus. Tapi begitu ada virus di daerah tersebut, akan terjadi ledakan kasus.
Hampir tiga tahun terakhir, empat kabupaten tersebut menguasai data DB yang rawan, dibandingkan Kota Denpasar. Tahun 2018 memang kasus DB tidak terlalu tinggi, bahkan di seluruh Indonesia juga demikian.
(Baca Juga : Kemenkes: Perilaku Manusia Memengaruhi Melonjaknya Populasi Nyamuk DBD)
Tahun 2019 merupakan siklus tiga tahunan sehingga akan terjadi ledakan kasus. Sementara siklus lima tahunan, yaitu tahun 2021 diprediksi terjadi ledakan kasus lebih besar lagi.
Bali pun dikatakan masuk jajaran teratas kasus DBD. ”Kalau Bali enggak ada kasus, Indonesia turun kasusnya,” ucapnya.
(Baca Juga : Berstatus KLB, Biaya Berobat Pasien Demam Berdarah di Ponorogo Digratiskan)
Sementara dari sisi virus, di Denpasar kasus DB terbanyak disebabkan oleh virus Dengue 3. Virus Dengue 3 ini sifatnya jika sekali masuk ke dalam tubuh nyamuk Aedes Aegypti akan cepat merebak dan menyebabkan wabah.
(Erha Aprili Ramadhoni)