JAKARTA - Puisi dan doa yang dipanjatkan Neno Warisman saat Munajat 212 di Monas beberapa hari lalu menjadi polemik. Dalam doa yang dipanjatkan Neno Warisman, disebutkan bahwa jika Prabowo-Sandiaga Uno tak menang pemilu maka ia khawatir tak ada lagi yang menyembah Allah.
Menanggapi hal tersebut, Habib Sholeh Al Muhdar menyatakan bahwa bermunajat adalah berdoa sepenuh hati, suci, berendah hati, indah, karena di dalamnya ada pengharapan keridaan, ampunan, bantuan, dan hidayat dari Allah SWT.
Tetapi menurutnya, doa yang diucapkan Neno Warisman dalam acara yang mereka sebut sebagai Munajat pada Kamis 21 Februari lalu tidak menggambarkan suatu pengharapan, justru mengancam Allah SWT.
"Kami sangat menyesalkan doa yang mengancam Allah SAW. Tim Prabowo-Sandi harus bertanggung jawab. Cara-cara yang dipakai Neno Warisman menodai Islam. Saya melihat bahwa itulah karakter dukungan HTI yang berada di belakang Prabowo-Sandi," jelasnya.
Lebih lanjut, Habib Sholeh Al Muhdar baik secara pribadi maupun sebagai garis keturunan Rasullulah Muhammad SAW, tidak terima dengan doa Neno Warisman yang kini ramai diperbincangkan publik.
"Saya sudah cukup lama belajar agama di pondok pesantren tetapi belum pernah mendengar doa seperti doa Neno Warisman dan tak juga bisa menemukan dalil yang tepat untuk membenarkan doa Neno. Apa yang dilakukan Neno adalah penghinaan terhadap Islam. Allah tidak bisa diancam-ancam. Jangan hanya karena dukung Prabowo-Sandi lalu halalkan segala cara," ucapnya.