“Peran Perum BULOG di sini sangat strategis dalam menjaga harga jagung pada saat panen raya seperti ini”, ungkap I Ketut.
Sistem Logistik Jagung Terintegrasi Menjadi Solusi Kebutuhan Jagung
I Ketut Diarmita juga mengungkapkan, meskipun kebutuhan jagung untuk industri pakan dan peternakan sangat besar, masih terdapat dua masalah pokok, yakni fluktuasi produksi dan pergeseran sentra produksi jagung.
Lebih lanjut I Ketut menjelaskan dari total produksi jagung selama setahun, sekitar 75 persen total produksi tersebut terjadi pada bulan Januari hingga Agustus, sedangkan kebutuhan industri pakan dan peternak mandiri relatif konstan sepanjang tahun. Fluktuasi produksi dalam setahun ini akan menimbulkan peluang terjadinya guncangan terhadap harga jagung domestik.
Sentra produksi jagung pun mengalami pergeseran, dari awalnya hanya di daerah Jawa, kini mulai ke wilayah Sumatera dan wilayah Timur Indonesia seperti Sulawesi, Kalimantan dan Nusa Tenggara. Sementara itu sentra pabrik pakan masih terpusat di 2 (dua) pulau besar yaitu Jawa dan Sumatera.
I Ketut menyampaikan solusi untuk kedua masalah utama yakni dengan membangun sistem logistik jagung yang terintegrasi dari wilayah sentra produksi hingga ke sentra konsumsi.