Apakah AS dan Korut sedang berperang?
Secara teknis, ya. Perang Korea berakhir dengan penghentian resmi perang - sebuah gencatan senjata - tetapi traktat perdamaian tidak pernah ditandatangani.
Berdasarkan pakta pasca-perang, AS masih memiliki lebih dari 23.000 anggota militer di Korea Selatan dan melakukan latihan secara teratur dengan pasukan Korsel.
Salah satu hasil KTT kemungkinan adalah semacam deklarasi perdamaian, sesuatu yang memang diinginkan Kim.
Baca juga: Mengapa Vietnam Jadi Tempat Pertemuan Trump-Kim?
Itu tidak akan menjadi traktat perdamaian resmi - karena itu adalah sebuah proses politik yang rumit dengan pengaruh praktis yang besar - tetapi tindakan yang lebih simbolis yang akan membuat kedua pemimpin terlihat baik di dalam negerinya. Mengapa di Vietnam?
Sebagai sebuah negara komunis Vietnam memiliki kesamaan politik dengan Korut, di samping juga pernah mengalami konflik dengan AS.
Negara ini dipandang menjadi model yang dapat diikuti Korut jika ingin keluar dari keterasingan.
Kim akan meluangkan waktu untuk melihat industri dan perdagangan di Vietnam. Jika dia mencapai kesepakatan dengan AS, membalikkan propaganda anti-AS puluhan tahun, dia perlu meyakinkan kelompok elit Korut bahwa mereka akan diuntungkan.
Kim juga tidak perlu mengkhawatirkan protes - karena Vietnam tidak mengizinkan demonstrasi - dan wartawan yang meliput KTT akan sangat diawasi.
Baca juga: Trump Rencanakan Bertemu dengan Kim Jong-un pada 27-28 Februari di Vietnam
Seperti apa keadaan Korut?
Pemerintahannya adalah salah satu yang paling kejam di dunia, yang sangat mengontrol kehidupan rakyatnya. World Food Programme meyakini terdapat lebih dari 10 juta orang yang kekurangan gizi disana.
Bagi elite politik dan perkotaan, kehidupan jauh lebih baik dalam beberapa tahun terakhir meskipun sanksi diterapkan, tetapi pengamat hak asasi manusia mengatakan tidak banyak yang berubah, meskipun Korut telah meningkatkan hubungan diplomatik.
HAM hampir pasti tidak akan dibicarakan pada KTT Trump-Kim, tetapi mereka kemungkinan akan mendiskusikan kesepakatan yang memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan atau membiarkan keluarga yang terpisah sejak perang bertemu kembali.
Mengapa Korut tidak memiliki listrik?
Ini adalah pertanyaan yang paling banyak dicari di Google - karena foto satelit seperti ini. Daerah gelap di tengah adalah Korea Utara, di antara Cina, Korsel dan Jepang.
Jawabannya adalah Korut tidak memiliki pasokan listrik yang luas dan dapat diandalkan.
Pembangkit listrik dan bendungan pembangkit air sudah tua dan mengalami kelangkaan bahan bakar dan suku cadang. Pasokan listrik diprioritaskan untuk kepentingan militer dan resmi.
Di luar perkotaan, banyak orang bergantung kepada generator yang mahal dan berisik, meskipun demikian menurut NK News, panel matahari - yang murah dan dapat diandalkan - menjadi semakin banyak digunakan untuk kepentingan rumah tangga.
Apakah AS akan pernah menyerang Korut?
Hal ini sering ditanyakan di internet, terkait dengan cerita ancaman dari Korut.
Secara teoritis, ya bsa saja, tetapi hanya sedikit pengamat yang mengatakan ini adalah sebuah ide yang baik.
Pertama terdapat masalah etika - terdapat 25 juta orang di Korut - sebagian besar adalah korban pemerintah, mereka bukanlah yang menimbulkan masalah.
Menyingkirkan Kim dan para pemimpin senior akan berisiko menciptakan ketidakstabilan di negara yang rapuh dan miskin - yang akan menyebabkan masalah pengungsi. Ini sangat ingin dihindari para negara tetangga karena akan membuat kawasan tidak stabil.
Dan Korut memiliki senjata nuklir, kimia dan biologis, disamping militer yang siap berperang. Kecuali dilumpuhkan seketika, semuanya akan menyerang balik, meskipun hanya untuk waktu terbatas.
(Fakhri Rezy)