Survei Cyrus Tunjukan Keriuhan Politik di Medsos Jelang Pilpres Tak Menambah Suara

Achmad Fardiansyah , Jurnalis
Kamis 28 Februari 2019 18:24 WIB
Survei Cyrus soal Peperangan Darat dan Udara Capres-Cawapres 2019 di Jakarta (foto: Fardi/Okezone)
Share :

JAKARTA - Perang opini dan strategi baik di udara maupun di darat sudah mulai masif dilakukan jelang Pilpres 2019. Ada lini yang sudah terlihat mencapai titik jenuh, hanya terlihat ramai, tapi orangnya hanya itu-itu saja.

Survei Cyrus Network memperlihatkan bahwa hanya sekira 40 persen pemilih yang terkoneksi dengan informasi di telapak tangan mereka. Baik itu media sosial maupun aplikasi pesan berantai seperti WhatsApp dan Line. Sisanya, 60 persen populasi belum bersentuhan dengan sumber-sumber informasi tersebut.

(Baca Juga: Potensi Masalah di Pemilu 2019: Dari Hoaks, Kampanye Hitam hingga DPT) 

CEO Cyrus Network Hasan Nasbi menjelaskan, Facebook dan WhatsApp adalah dua media sosialisasi paling powerful sejauh ini. Facebook diakses oleh 32 persen populasi dan WhatsApp dimiliki oleh 33 persen populasi pemilih.

Sementara Twitter yang tampaknya selalu paling heboh, hanya diakses oleh 4 persen populasi saja. Tapi anehnya, ini yang justru menjadi favorit para politikus dan timses di Indonesia.

“Kampanye politik di media sosial memang terlihat ramai dan panas, begitu juga di pesan berantai. Tapi populasi orang yang terlibat tidak berkembang dan jenuh. Hanya 40 persen pengguna Facebook yang mengaku aktif menyebar pesan politik di Facebook. Begitu pula WhatsApp hanya 28 persen dari penggunanya yang aktif menyebar pesan politik di aplikasinya. Sisanya, sudah tidak melakukan dan tidak peduli lagi,” kata Hasan.

 

Dia menjelaskan, hampir lima tahun tensi politik yang amat tinggi, ternyata tidak sampai 50 persen penguna media sosial ataupun aplikasi pesan yang terlibat secara aktif menyebarkan pesan-pesan politik.

Begitu juga yang berpartisipasi aktif untuk meluruskan hoax dan fitnah yang bertebaran melalui telapak tangan. Hanya sekian persen yang aktif meluruskan, sisanya cenderung apatis, membiarkan atau tidak peduli sama sekali.

“Ini bukti bahwa keriuhan politik di media sosial dan pesan berantai sudah tidak berkembang lagi. Tidak menambah audience atau menambah suara. Hanya sekadar mempertahankan isu saja,” ucap Hasan.

Terlebih lagi, kata Hasan, data temuan survei juga menunjukkan bahwa saat ini pendukung kedua belah pihak cenderung menyeleksi siapa yang bisa berteman dan berinteraksi dengan mereka.

Menurut temuan survei, 77 persen pendukung Jokowi-Amin menyatakan teman-temannya di media sosial maupun aplikasi pesan adalah sesama pendukung Jokowi-Amin. Begitu Juga dengan pendukung Prabowo-Sandi, 74 persen mereka juga merasa lebih banyak bersama-sama dengan yang seaspirasi di media sosial maupun aplikasi pesan.

“Terlihat orang yang aktif di media sosial, merasa kelompoknya ini yang paling dominan” tutur Hasan.

Jadi, dari 40 persen ceruk yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan suara, di tengah ketegangan politik, jika hanya setengahnya yang bisa dioptimalkan, itu artinya hanya sekitar 20 persen dari total keseluruhan populasi.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya