"Saudara dari Gunung Datang, Mereka Punya Budaya Lain"
Kerusakan hutan di Pegunungan Cycloop, atau disebut Dobonsolo oleh warga Sentani, sudah terjadi sejak 1980-an, sejak apa yang mereka sebut "kedatangan perambah hutan".
Amos Ondi adalah seorang Ondoafi atau kepala suku. Dia yang tetua di Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.
"Tapi akhirnya ada yang ikut-ikut melakukan penebangan. Tanpa izin. Kita di sini itu orang adat tahu diri. Kepala suku bilang wilayah ini boleh, wilayah ini jangan."
"Alam kita juga berubah. Kalau sejak dulu orangtua kita meminta kita tidak boleh tebang-tebang, jaga dia, dan kali itu juga sumber kehidupan. Tapi, saudara dari gunung datang, mereka punya budaya lain dengan orang Jayapura asli," ujar pria yang sudah berusia 77 tahun ini.
Musibah ini, lanjut Amos, bukan karena alam, melainkan karena ulah manusia. "Musibah ini kita sendiri yang undang datang. Ini akibatnya," ungkapnya.
Amos menuturkan bahwa Pegunungan Cycloop dan Danau Sentani merupakan suatu kesatuan yang tak terpisah. Pasalnya, beberapa aliran sungai dari Pegunungan Cycloop bermuara di Danau Sentani. Kerusakan yang terjadi di hulu, tentu berdampak ke hilir.
"Kalau gunung selamat, danau pasti selamat. Kalau gunung rusak, danau juga rusak," kata dia.
Bupati Jayapura Mathius Awoitau mengatakan perambah hutan di Pegunungan Cycloop bukanlah orang asli Jayapura, namun warga pendatang. Mereka kemudian menetap di kawasan cagar alam, membuka lahan dan menggantinya sebagai kebun dan lahan.
"Ini warga dari luar yang karena kesulitan ekonomi kemudian dia merambah ke kawasan cagar alam," kata dia.
Adapun Kementerian Kehutanan mencatat penggunaan lahan permukiman dan pertanian lahan kering pada daerah tangkapan air banjir seluas 2.415 hektare.
Berdasarkan peta kerawanan banjir limpasan, sebagian besar DTA banjir merupakan daerah dengan potensi limpasan yang tinggi dan ekstrem.
Lokasi titik banjir adalah dataran aluvial dan dekat dengan lereng kaki, sehingga secara geomorfologis merupakan sistem lahan yang tergenang.
Dampak banjir bandang semakin fatal karena cuaca ekstrem membuat curah hujan tinggi selama beberapa hari terakhir, dan diperkirakan terus berlanjut selama beberapa hari ke depan.