Hutan seperti "Ibu"
Lantas, bagaimana komitmen pemerintah untuk mengatasi kerusakan lingkungan di kawasan cagar alam Pegunungan Cycloop?
Wakil Gubernur Papua Klemen Tinal mengungkapkan, "Kita ke depan memang harus benar-benar melarang 29 titik di Cycloop tidak boleh ada aktivitas masyarakat apa pun. Kita harus hargai sebagai cagar alam."
Meski mengaku kesal karena upayanya menjaga hutan harus dibayar mahal, bencana ini tak mengurungkan niat Jefri untuk tetap melestarikan hutan, yang disebutnya menjadi "ibu" baginya.
"Hutan punya arti buat saya itu dia semacam ibu. Kalau kitong tidak cakar tanah, kitong tidak dapat makan. Cakar tanah bukan merusak to, sebatas semampu saja untuk ditanami."
Bencana yang membuat ribuan warga mengungsi ini membuat Jefri terpicu untuk terus mengawasi hutan. Dia berharap patroli yang biasanya tersendat, hanya dua kali sebulan, bisa dilakukan lebih sering.
"Harapan kami cuma satu saja, bagaimana untuk mencegah perambah. Perambah ini yang jadi masalah berat. Karena dari perambah sehingga terjadi longsor dengan banjir," ujar Jefri.
"Biasanya air tertahan karena ada akar pohon jadi dia bisa resap, tapi sekarang tidak ada karena ulah perambah," pungkasnya.
(Hantoro)