Survei Indometer: Kontestasi Ideologi Nasionalis dan Islam di Pemilu 2019

Fakhri Rezy, Jurnalis
Sabtu 13 April 2019 23:26 WIB
Pemilihan Umum (Okezone)
Share :

JAKARTA - Politik kontemporer di Indonesia diwarnai dengan kebangkitan populisme Islam. Sejak gelombang reformasi, perda-perda syariah diberlakukan di berbagai daerah.

Warna Islam semakin menguat dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tetapi, apakah partai-partai Islam berhasil menguasai perpolitikan dalam kontestasi dengan partai-partai nasionalis?

 Baca juga: Tutup Debat Pilpres, Jokowi-Ma'ruf Kobarkan Semangat Optimisme dalam Kemajuan Ekonomi

Kenyataannya, pada Pemilu 2014 saja hanya PKB yang mampu menembus posisi lima besar. PDIP, Golkar, Gerindra, dan Demokrat menjadi juara saat itu. Partai-partai berbasiskan Islam seperti PKS, PAN, dan PPP hanya mampu menempati posisi papan tengah. Terakhir PBB yang mengklaim sebagai pewaris semangat Masyumi gagal meraih kursi di parlemen.

“Partai-partai nasionalis cenderung mengalami peningkatan dibanding partai-partai berbasis Islam,” ungkap Direktur Eksekutif Indometer (Barometer Politik Indonesia) Leonard Sb, Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

 Baca juga: Jokowi Tanya Apa yang Akan Dilakukan Prabowo-Sandi soal Pengembangan eSport? Ini Jawabannya

Temuan survei Indometer menunjukkan elektabilitas PDIP naik (25,5 persen), demikian pula dengan Gerindra (14,8 persen). Hanya Demokrat yang turun elektabilitasnya (5,9 persen).

Di antara partai berbasis Islam, PKB mengalami kenaikan (9,2 persen) dan mempertahankan posisi di lima besar.

 

Pada papan tengah, hanya PKS yang naik elektabilitasnya (3,9 persen). PAN turun elektabilitasnya (3,4 persen), begitu pula dengan PPP (3,3 persen). PBB tetap berada pada papan bawah (0,8 persen) dan diprediksi kembali gagal melenggang ke Senayan.

Partai-partai nasionalis lainnya menempati posisi papan tengah, seperti Nasdem (4,3 persen) dan Partai Solidaritas Indonesia (3,8 persen). Lalu ada Perindo (2,0 persen) dan Hanura (1,2 persen).

Sisanya terlempar ke papan bawah, yaitu PKPI (0,7 persen), Berkarya (0,6 persen), dan Garuda (0,1 persen). Seperti halnya PBB, partai-partai ini pun sulit untuk dapat lolos ambang batas parlemen.

 Baca juga: TKN Nilai Visi Pemberdayaan Perempuan Jokowi-Ma'ruf Amin Sangat Membumi

Dalam peta pemilihan presiden (Pilpres), tokoh-tokoh nasionalis menempati posisi kunci sebagai calon presiden (capres) maupun calon wakil presiden (cawapres). Hanya Jokowi yang didampingi oleh ulama NU Kyai Ma’ruf Amin, sedangkan Prabowo lebih memilih Sandiaga Uno dibanding tokoh-tokoh Islam yang pernah diusulkan dalam ijtima ulama.

“Pasangan calon (paslon) Jokowi-Ma’ruf sebagai kombinasi nasionalis dan relijius (Islam) unggul dengan elektabilitas 55,6 persen,” lanjut Leonard.

Prabowo-Sandi tertinggal dengan raihan elektabilitas 32,9 persen. Menariknya, Jokowi justru kerap menjadi korban serangan hoaks anti-Islam. Sebaliknya dengan Prabowo yang dituduh mengakomodasi kepentingan kelompok-kelompok pengusung ideologi khilafah.

Karena itu, menurut Leonard, wajar jika mantan presiden SBY melancarkan kritik terhadap kampanye akbar Prabowo-Sandi yang dinilai eksklusif. Demokrat tampak menginginkan warna nasionalis tidak luntur oleh kuatnya label khilafah di kubu Prabowo-Sandi.

“Kubu petahana Jokowi-Ma’ruf lebih elegan dalam mengakomodasi representasi ideologi nasionalis dan Islam,” pungkas Leonard.

Survei Indometer (Barometer Politik Indonesia) dilakukan pada 26 Maret – 2 April 2019, dengan jumlah responden 1280 orang mencakup seluruh provinsi di Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan secara acak bertingkat (multistage random sampling), dengan margin of error ±2,98 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Berikut adalah hasil lengkap elektabilitas capres-cawapres:

Jokowi-Ma'ruf: 55,6 persen

Prabowo-Sandi: 32,9 persen

Tidak tahu/tidak jawab: 11,5 persen.

(Fakhri Rezy)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya