SUKU Betawi punya tradisi tersendiri dalam menyambut bulan suci Ramadan. Ya, tradisi nyorog namanya. Nyorog ialah tradisi yang dilakukan masyarakat Betawi dalam menyambut bulan puasa dengan membawakan bahan makanan atau makanan matang ke rumah orang-orang tua.
Dalam tradisi nyorog, makanan dibawakan oleh orang yang lebih muda ke rumah saudaranya yang lebih tua atau tokoh-tokoh pemuka agama maupun sesepuh yang dituakan. Biasanya, masyarakat suku Betawi menyimpan bahan makanan maupun makanan yang sudah matang ke dalam rantang tingkat untuk kemudian diberikan ke saudara yang lebih tua.
Nyorog lazimnya dilakukan sepekan sebelum puasa. Tujuannya, sebagai ajang silaturahmi antar sanak keluarga serta menghormati keluarga atau tokoh-tokoh yang dituakan. Namun, tradisi tersebut hampir punah di era milenial sekarang ini.
Tradisi nyorog mulai terkikis seiring orang-orang asli Betawi yang sudah tidak tinggal di tanah kelahirannya, Jakarta. Mayoritas orang asli Jakarta sendiri saat ini justru sudah banyak yang tinggal di luar Ibu Kota seperti, Tangerang, Depok, Bekasi, dan Bogor.
Anak-anak kelahiran Jakarta juga sudah banyak yang tidak tahu apa itu tradisi nyorog. Arbi (29), seorang mahasiswa kelahiran Jakarta mengaku tidak mengetahui tradisi nyorog. Bahkan, dia baru mendengar adanya tradisi Betawi dalam menyambut bulan Ramadan bernama nyorog.
"Kurang paham juga ya soal nyorog. Ya, kalau saya sih memang lahir di Jakarta. Tapi enggak tulen Betawi, bapak asli Betawi, ibu dari Jawa. Enggak pernah diceritain juga soal nyorog," kata Arbi saat ditemui Okezone di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan belum lama ini.