BANGKOK – Tiga aktivis Thailand yang menghadapi tuntutan karena menghina monarki dilaporkan telah hilang setelah ditangkap di Vietnam. Hilangnya para aktivis itu dilaporkan oleh kelompok hak asasi, beberapa bulan setelah dua aktivis pengkritik militer Thailand yang diasingkan ditemukan tewas.
Wakil Perdana Menteri Thailand, Prawit Wongsuwan, membantah ketiga aktivis itu dalam tahanan Thailand, seperti yang telah dilaporkan kelompok Aliansi Thailand untuk Hak Asasi Manusia.
Dalam pernyataannya, Human Rights Watch mengatakan bahwa Chucheep Chiwasut, yang menyiarkan komentar politik ke Thailand dari pengasingan, dan dua aktivis lain Siam Theerawut dan Kritsana Thapthai dilaporkan telah diserahkan kepada pihak berwenang Thailand oleh Vietnam pada 8 Mei.
“Vietnam diduga secara rahasia memaksa mengembalikan ke Thailand tiga orang aktivis terkemuka seharusnya membunyikan bel peringatan bagi komunitas internasional,” kata Direktur Human Rights Watch Asia, Brad Adams sebagaimana dilansir Reuters, Sabtu (11/5/2019).
Amnesty International yang berbasis di London mengatakan Chucheep telah lama menghadapi tuduhan lese-majeste, atau tuduhan penghinaan terhadap monarki. Siam dan Kritsana juga sedang dalam penyelidikan polisi untuk lese-majeste.
Pasal 112 KUHP Thailand mengatakan siapa pun yang menghina raja, ratu, pewaris atau wali kerajaan menghadapi hukuman hingga 15 tahun penjara.