Awal bulan ini, Presiden Duterte mengkritik keras Kanada, mengatakan mereka telah mengubah negerinya menjadi "tempat sampah".
Tantangan sampah global - dan tempat pembuangannya - merupakan masalah yang terus berkembang, tapi sejak larangan "sampah asing" dilakukan oleh China pada tahun 2017, jumlah persoalan ini meningkat ke permukaan.
Pada tahun itu saja, China mengambil tujuh juta ton sampah plastik, dengan ide bahwa sebagian besar sampah itu bisa diproses untuk didaur ulang. Namun nyatanya sebagian besar merupakan sampah yang tak bisa didaur ulang.
Banyak juru kampanye lingkungan hidup menganggap hal itu sebagai kemenangan ketika China melakukan larangan tersebut. Jumlah plastik yang diimpor oleh China turun 94 persen antara 2016-2017 dan 2017-18.
Namun sebagian besar sampah ini kemudian dikirimkan ke negara lain di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Filipina.
(Rachmat Fahzry)