Edy menuturkan dari kajian pakar kegempaan disebutkan frekuensi gempa di Indonesia sangat tinggi karena intesitas mencapai tiga sampai empat kali dalam sehari. “Jadi tidak mengherankan kalau ada potensi gempa besar yang menyebabkan tsunami karena kejadian ini sudah pernah terjadi di masa lalu,” katanya.
Baca Juga: Pantai Selatan Rawan Tsunami, Ini Imbauan BPBD DIY
Dia menjelaskan, pemaparan terhadap potensi megathrust tidak perlu dikhawatirkan karena sebagai upaya mitigasi bencana. Menurut Edy, potensi tersebut menjadi pengingat agar terus siap siaga terhadap masalah kebencanaan. “Saya kira masyarakat tidak perlu panik terkait dengan potensi tersebut,” sambungnya.
BPBD Gunungkidul terus berupaya melakukan mitigasi sehingga dampak dari bencana bisa ditekan. Selain terus menambah keberadaan desa siaga bencana, untuk tsunami Gunungkidul memiliki early warning system (EWS) yang tersebar di tujuh titik pantai. “Kami juga memiliki alat pencatat kegempaan yang tersambung dengan sistem milik BMKG,” urai dia.
(Fiddy Anggriawan )