Kepala Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Nikman Satiur memiliki tips yang berbeda, tinggal di zona merah ini, jika terjadi gempa yang paling utama keluar rumah dulu cari tempat yang aman jangan dibawah pohon dan tonggak listrik, tapi kalau gempa tergolong tidak terlalu kuat, tapi kalau sudah kuat karena dia tinggal di dekat pantai lihat air dulu kalau surut langsung lari kebukit.
“Lihat kondisi air dulu, kalau surut langsung lari kebukit yang lebih tinggi karena bertanda akan datang tsunami, tapi kalau hanya gempa saja lari ke tanah yang lapang hindari tonggak listrik dan pohon,” ucapnya.
Santi Puspita Sari (42) pedagang asongan di pelabuhan Tuapeijat, sehari-hari menjual asongan dengan gerobak di pelabuhan, dia juga punya cara sendiri, kalau gempa datang kuat atau tidak kuat lari saja ke bukit, tapi jangan lupa bawah bekal secukupnya dan tidak memberatkan pada saat lari, biarkan barang-barang dagangannya di sini yang penting keselamatan di dahulukan.
“Cara kita adalah melarikan diri ke bukit atau ditempat yang lebih tinggi sambil membawa barang-barang secukupnya untuk bekal di pengungsian, tidak usah membawa barang-barang banyak karena kita tidak sanggup membawanya ke bukit secukupnya saja," jelasnya.
Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabaggalet sebagai kepala daerah mengintruksikan kepada Seluruh masyarakat Mentawai untuk tidak lagi menunggu aba-aba kalau terjadi gempa langsung lari ke bukit yang lebih tinggi.
“Kalau datang gempa jangan panik, keluar dari rumah cari tempat yang paling tinggi tidak perlu mengukur kekuatan itu rumus alami saja, kita tidak perlu menunggu tanda-tanda begitu ada gempa langsung lari ke tempat yang lebih tinggi,” tegasnya.
Jangan mengulang kembali seperti gempa 2010 di Pagai Selatan ketika gempa 7,7 SR datang masyarakat tidak langsung mengungsi mereka tetap melakukan aktivitas karena menurut informasi gempa tidak ada tsunami.
“Namun apa yang terjadi pada saat itu memang pada saat gempa guncangannya tidak kuat tapi tiba-tiba tsunami sudah ada di samping rumah mereka dan masyarakat tidak bisa lagi menyelamatkan diri, maka itu kalau terjadi gempa jangan tunggu-tunggu berapa magnitude, air surut atau tidak, teorinya sederhana gempa datang langsung lari, keatas bukit,” jelasnya.
Bagaimana kondisi Mentawai saat ini yang berada di zona merah ini, menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Mentawai, Noviradi menjelaskan dari 43 desa yang ada di kabupaten ini sebanyak 33 desa rawan bencana tsunami baik yang ada di pantai barat maupun yang ada di pantai timur.
“Untuk desa-desa di pantai timur sebenarnya sudah tersedia jalur evakuasi, memanfaatkan jalan desa, jalan lingkungan yang sudah dibangun. masalah kita saat ini adalah di daerah pantai barat cukup banyak desa namun minim jalur evakuasi,” ujarnya.
Kala di bagian utara itu Kecamatan Siberut Utara seperti di Desa Muara Sikabaluan daerahnya dataran rendah, rawah-rawah dan sangat rawan aksesnya ke perbukitan sangat jauh termasuk jalan ke lokasi perbukitan juga jauh. Kemudian di daerah Sigapokna, Labuhan Bajau, Pulitcoman Kecamatan Siberut Barat jalur evakuasi masih rendah atau minim, tapi kalau di ibu kota Kecamatan Siberut Barat seperti Betaet jalur evakuasinya sudah ada.
Kemudian di Kecamatan Siberut Barat Daya khususnya di Sagulubbek daerah yang menghadap ke Samudera Hindia ini jalur evakuasi juga sangat minim. Kalau di Pulau Sipora yang paling rawan itu di Desa Betumonga Kecamatan Sipora Utara, jalur evakuasi kurang memadai, ada jalanya tapi belok-belok tidak langsung mengarah ke bukit. Kemudian Desa Matobe, Desa Mara dan Sagitici Kecamatan Sipora Selatan masih kurang.
“Beda halnya dengan daerah Kecamatan Pagai Utara, Kecamatan Pagai Selatan dan Sikakap setelah tsunami melanda daerah ini kondisi mereka relatif sudah aman apalagi saat pemulihan pasca bencana tempat tinggal mereka di lokasi yang aman,” jelasnya.