MENTAWAI - Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat merupakan daerah yang sangat rawan gempa dan tsunami, dari 43 desa yang ada pada saat ini sebanyak 33 desa yang ada merupakan zona merah yang sangat rawan tsunami.
Beberapa LSM dan pegiat bencana terus melakukan sosialiasi dan melakukan simulasi evakuasi mandiri di masing-masing desa yang dekat dengan pantai jika terjadi gempa dan tsunami.
Okezone mencoba menghimpun sudah sejauh mana masyarakat Mentawai yang tinggal di zona merah ini siaga terhadap gempa dan tsunami.
Farhan (13) warga Dusun Jati, Desa Tuapeijat merupakan bocah yang tinggal dengan dengan bibir pantai rumahnya hanya sejauh 20 meter dari pantai, setiap hari dia main skate board bersama dengan teman-temanya lokasi tempat bermain mereka hanya 10 meter saja dari bibir laut, pengalamanya selama ini kalau terjadi gempa yang kuat mereka langsung lari ke bukit yang ada di belakang rumah mereka.
“Dulu kalau datang gempa dulu kami langsung lari ke bukit di belakang rumah, dulu kami pernah mengungsi di atas perbukitan selama satu minggu sampai kondisi sudah tenang,” tuturnya.
Beda halnya dengan Aprilia (17) dia bersama temannya ini datang berkunjung ke Pantai Jati yang merupakan lokasi wisata di daerah Desa Tuapeijat, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, biasanya kalau sore hari sunsetnya sangat bagus di pantai itu, namun pantai yang menghadap ke Samudera Hindia itu sangat rawan terjadi gempa dan tsunami.
“Kalau datang gempa yang paling utamanya kita berlindung dibawa meja untuk mengantisipasi benda-benda yang jatuh dari atas, kemudian kalau sudah tenang kita ke luar dari bawah meja, jika air surut atau burung-burung beterbangan ke arah bukit kita lari ke bukit karena tanda-tanda tsunami akan datang,” ujarnya.
Mustafa (50) yang hidup sebagai nelayan di Dusun Kampung, Desa Tuapeijat yang juga berdekatan dengan pantai, sehari-hari hidupnya melaut dan tinggal di daerah bencana ini baginya sangat dibutuhkan kesiapsiagaan.
“Yang utama menyelamat diri dan lari ke bukit bersama-sama keluarga sambil mengajak saudara lain dengan tetangga untuk mengungsi ke bukit biar kita selamat kalau memang terjadi tsunami,” ucapnya.
Berbeda yang Yunda (28) ibu rumah tangga, dia tinggal hanya satu meter dari bibi pantai, jangankan gempa kalau pasang air laut tinggi rumahnya menjadi gempuran ombak, suaminya bekerja serabutan kadang buruh, kadang nelayan, kadang juga jadi tukang bangunan, hidup di zona merah yang rawan bencana baginya sudah menjadi sahabat.
“Kalau gempa datang kita keluar rumah sambil lihat situasi, kalau gempanya sudah kuat langsung lari ke atas bukit saja sama anak-anak,” katanya.
Sementara Muanas (42) seorang buruh pelabuhan Tuapeijat yang sehari-hari hidup dengan kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai. Sudah acapkali dia merasakan gempa di tempat tinggalnya terutama pada saat dia sedang bongkar muat barang di pelabuhan. Pernah dulu terjadi gempa lupa dengan tahunnya yang dilakukan adalah melarikan diri ke atas bukit.
“Kita lari mencari tempat yang aman, ngak usah lihat-lihat kondisi air. Jarak dari pelabuhan ini ke bukit sekitar 200 meter itu bagus karena jalan besar jadi kita lari saja ke sana, kalau sudah tenang baru kembali,” ulasnya.
Kepala Dusun Kampung, Desa Tuapeijat, Jalaludin punya cara sendiri menyelamatkan diri ketika terjadi bencana gempa dan tsunami.
“Kita lari menyelamatkan diri dulu ke bukit tidak perlu menunggu aba-aba dari siapa pun apalagi sirine tsunami tidak usah ditunggu pokoknya kita langsung lari. Karena kalau kita tunggu aba-aba air laut akan terus datang,” katanya.
Kepala Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Nikman Satiur memiliki tips yang berbeda, tinggal di zona merah ini, jika terjadi gempa yang paling utama keluar rumah dulu cari tempat yang aman jangan dibawah pohon dan tonggak listrik, tapi kalau gempa tergolong tidak terlalu kuat, tapi kalau sudah kuat karena dia tinggal di dekat pantai lihat air dulu kalau surut langsung lari kebukit.
“Lihat kondisi air dulu, kalau surut langsung lari kebukit yang lebih tinggi karena bertanda akan datang tsunami, tapi kalau hanya gempa saja lari ke tanah yang lapang hindari tonggak listrik dan pohon,” ucapnya.
Santi Puspita Sari (42) pedagang asongan di pelabuhan Tuapeijat, sehari-hari menjual asongan dengan gerobak di pelabuhan, dia juga punya cara sendiri, kalau gempa datang kuat atau tidak kuat lari saja ke bukit, tapi jangan lupa bawah bekal secukupnya dan tidak memberatkan pada saat lari, biarkan barang-barang dagangannya di sini yang penting keselamatan di dahulukan.
“Cara kita adalah melarikan diri ke bukit atau ditempat yang lebih tinggi sambil membawa barang-barang secukupnya untuk bekal di pengungsian, tidak usah membawa barang-barang banyak karena kita tidak sanggup membawanya ke bukit secukupnya saja," jelasnya.
Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabaggalet sebagai kepala daerah mengintruksikan kepada Seluruh masyarakat Mentawai untuk tidak lagi menunggu aba-aba kalau terjadi gempa langsung lari ke bukit yang lebih tinggi.
“Kalau datang gempa jangan panik, keluar dari rumah cari tempat yang paling tinggi tidak perlu mengukur kekuatan itu rumus alami saja, kita tidak perlu menunggu tanda-tanda begitu ada gempa langsung lari ke tempat yang lebih tinggi,” tegasnya.
Jangan mengulang kembali seperti gempa 2010 di Pagai Selatan ketika gempa 7,7 SR datang masyarakat tidak langsung mengungsi mereka tetap melakukan aktivitas karena menurut informasi gempa tidak ada tsunami.
“Namun apa yang terjadi pada saat itu memang pada saat gempa guncangannya tidak kuat tapi tiba-tiba tsunami sudah ada di samping rumah mereka dan masyarakat tidak bisa lagi menyelamatkan diri, maka itu kalau terjadi gempa jangan tunggu-tunggu berapa magnitude, air surut atau tidak, teorinya sederhana gempa datang langsung lari, keatas bukit,” jelasnya.
Bagaimana kondisi Mentawai saat ini yang berada di zona merah ini, menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Mentawai, Noviradi menjelaskan dari 43 desa yang ada di kabupaten ini sebanyak 33 desa rawan bencana tsunami baik yang ada di pantai barat maupun yang ada di pantai timur.
“Untuk desa-desa di pantai timur sebenarnya sudah tersedia jalur evakuasi, memanfaatkan jalan desa, jalan lingkungan yang sudah dibangun. masalah kita saat ini adalah di daerah pantai barat cukup banyak desa namun minim jalur evakuasi,” ujarnya.
Kala di bagian utara itu Kecamatan Siberut Utara seperti di Desa Muara Sikabaluan daerahnya dataran rendah, rawah-rawah dan sangat rawan aksesnya ke perbukitan sangat jauh termasuk jalan ke lokasi perbukitan juga jauh. Kemudian di daerah Sigapokna, Labuhan Bajau, Pulitcoman Kecamatan Siberut Barat jalur evakuasi masih rendah atau minim, tapi kalau di ibu kota Kecamatan Siberut Barat seperti Betaet jalur evakuasinya sudah ada.
Kemudian di Kecamatan Siberut Barat Daya khususnya di Sagulubbek daerah yang menghadap ke Samudera Hindia ini jalur evakuasi juga sangat minim. Kalau di Pulau Sipora yang paling rawan itu di Desa Betumonga Kecamatan Sipora Utara, jalur evakuasi kurang memadai, ada jalanya tapi belok-belok tidak langsung mengarah ke bukit. Kemudian Desa Matobe, Desa Mara dan Sagitici Kecamatan Sipora Selatan masih kurang.
“Beda halnya dengan daerah Kecamatan Pagai Utara, Kecamatan Pagai Selatan dan Sikakap setelah tsunami melanda daerah ini kondisi mereka relatif sudah aman apalagi saat pemulihan pasca bencana tempat tinggal mereka di lokasi yang aman,” jelasnya.
Saat ini BPBD akan membuat jalur evakuasi bekerjasama dengan OPD-OPD lain karena BPBD sifatnya berkoordinasikan seperti dengan pihak kecamatan dan desa, mereka punya anggaran membangun jalan-jalan desa jalan lingkungan.
“Kita dalam rapat forum SKPD kita sampaikan agar mereka juga berorientasi terhadap bencana jadi membangun jalan-jalan lingkungan itu supaya tegak lurus dengan pantai menuju ke bukit agar bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai jalur evakuasi,” paparnya.
Kemudian juga sektor pertanian ada juga membangun jalan usaha tani, jalan produksi kalau dia berada dekat dengan pantai Novriadi harapkan tegak lurus dengan pantai mengarah ke bukit disamping masyarakat memanfaatkan sebagai sarana produksi.
Lalu Kelompok Siaga Bencana (KSB) rata-rata setiap desa sudah memiliki namun ada yang aktif ada yang tidak melaluhi kegiatan Jambore Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke VI se Sumatera Barat yang diadakan di Mentawai ini untuk menyegarkan kembali, ada perwakilan KSB-KSB dari desa-desa mereka akan disegarkan kembali yang sudah terbentuk itu baru 9 desa tanguh bencana.
“Kegiatanhya lebih banyak edukasi pengetahuan masyarakat tentang kebencanaan simulasi evakuasi mandiri karena investasi yang paling besar adalah penyadaran masyarakat ketika masyarakat kita siap siaga, pengetahuan kebencanaan lebih baik itu akan meminimalkan korban saat bencana terjadi,” terangnya.
Namun kendala yang dihadapi BPBD Mentawai adalah akses karena Mentawai itu kepulauan, akses sangat berat terutama pantai barat, kemudian BPBD tidak punya struktur disetiap kecamatan apalagi di desa.
“Ke depan kita bicarakan dengan pimpinan bagaimana Satgas PB yang dulu pernah dibentuk di setiapkecamatan ada 10 orang itu diaktifkan kembali dan mereka diberikan penghargaan atau insentif uang BBMnya biar mereka bisa Tim Reaksi Cepat (TRC) karena kita tidak punya UPT atau cabang ketika terjadi bencana mereka dulu yang memberikan informasi,” ujarnya.
Kemudian masalah pangan ketika terjadi bencana stok pangan masyarakat dalam bentuk apa jumlahnya berapa, itu yang perlu dihitung lagi.
“Solusi lain adalah berupaya kembali mandiri pangan tapi pangan lokal seperti sagu, keladi, pisang untuk di tanam di deaerah lokasi pengungsian sehingga setiap desa sudah ada stok pangan hidup, ketika terjadi bencana bisa mengkonsumsi itu selama tiga hari sebelum bantuan itu datang, ini yang akan program kembali,” pungkasnya.
(Khafid Mardiyansyah)