MEMASUKI usia kemerdekaan ke-74, Indonesia di berbagai wilayah masih terus dijajah dengan praktik-praktik korupsi. Ibarat penyakit, korupsi telah menjalar di setiap sendi kehidupan dan seolah menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari. Sejumlah kalangan bahkan menyebutkan bahwa Indonesia dalam kondisi darurat korupsi.
Kehadiran KPK sebagai lembaga antirasuah pun, dikatakan tak memberi efek kuat. Meski telah banyak yang menjadi pesakitan akibat terjaring OTT, tak lantas mengurungkan niat mereka yang senang berbuat korup. Karenanya yang menjadi persoalan utama budaya korupsi sejatinya berhubungan dengan akhlak dan moralitas yang dibangun dalam diri sebuah bangsa.
Menemukan sosok yang jujur dan bersih, ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, sangat sulit dan langka. Namun di era kepemimpinan Soekarno, sosok tersebut ada dan bahkan menjadi legenda di tanah air khususnya di kepolisian.
Adalah Jenderal Polisi (Purn) Drs Hoegeng Imam Santoso, seorang yang dikenal dengan integritasnya dalam memberantas korupsi yang merajalela pada masa itu. Sosok Hoegeng seperti oase di tengah kerinduan publik terhadap penegak hukum yang jujur, bersih, bersahaja dan berkomitmen tinggi terhadap sumpahnya. Pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 14 Oktober 1921 itu, memiliki dedikasi tinggi terhadap amanat yang diembannya selama menjabat.
Terlahir dari keluarga jaksa, sifat jujur Hoegeng sudah ditanamkan orangtuanya sejak ia kecil. Ayahnya yang pernah menjabat sebagai kepala kejaksaan di Pekalongan sering berpesan kepada Hoegeng, "yang penting dalam kehidupan manusia adalah kehormatan. Jangan merusak nama baik dengan perbuatan yang mencemarkan". Amanat sang ayah inilah yang kemudian menjadikan sosok Hoegeng memiliki teladan bersih dan jujur, serta menginspirasi banyak orang.
Lulus dari sekolah kepolisian tahun 1952, Hoegeng ditempatkan sebagai polisi di Jawa Timur. Beberapa tahun setelahnya, Hoegeng dipindahtugaskan ke Sumatera Utara sebagai Kepala Direktorat Reskrim. Saat itu Sumatera Utara terkenal sebagai daerah penyelundupan barang-barang ilegal dan perjudian. Banyak polisi, tentara bahkan jaksa yang telah disuap oleh para bandar judi.
Ketika baru mendarat di Pelabuhan Belawan, Hoegeng didekati oleh seorang utusan bandar judi yang menyampaikan selamat datang sambil memberitahukan bahwa sudah ada mobil dan rumah yang dihadiahkan untuknya dari para pengusaha. Namun Hoegeng menolak secara halus dan memilih tinggal di hotel sampai rumah dinasnya tersedia. Selang dua bulan, Hoegeng kembali menolak barang-barang mewah pemberian bandar judi yang dikirim ke rumah dinasnya.
Setelah di Medan, Hoegeng pun ditugaskan ke Jakarta sebagai Kepala Jawatan Imigrasi. Sebelum bertugas, Hoegeng menutup usaha toko bunga yang dijalankan istrinya.
"Nanti semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang ibu, dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya," jelas Hoegeng kala itu kepada sang istri.