Peristiwa 7 Agustus: Puncak Perlawanan Rakyat Padang ke Belanda hingga Berdirinya AJI

Fahreza Rizky, Jurnalis
Rabu 07 Agustus 2019 07:54 WIB
Aliansi Jurnalis Independen
Share :

JAKARTA - Berbagai peristiwa penting dan bersejerah terjadi pada 7 Agustus. Salah satunya puncak perlawanan rakyat Padang terhadap Belanda yang terjadi pada tanggal ini.

Pada tanggal sama 25 tahun lalu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) lahir sebagai tonggak gerakan perjuangan kemerdekaan pers di Indonesia. Organisasi yang didirikan para jurnalis untuk melawan pemerintah otoriter Orde Baru yang antikritik dan membelenggu pers.

Berikut rangkuman peristiwa bersejarah yang terjadi di 7 Agustus sebagaimana dikutip Okezone dari Wikipedia, Rabu (7/8/2019).

1. Perlawanan Rakyat Padang

Pada 7 Agustus 1669 dikenal sebagai peristiwa puncak pergolakan masyarakat Pauh dan Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat melawan Belanda dengan menguasai Loji-Loji Belanda di Muaro, Padang. Peristiwa tersebut diabadikan sebagai tahun lahir Kota Padang.

Sebelumnya Padang dikenal sebagai kampung nelayan yang diperintahkan oleh Penghulu Delapan Suku. VOC pada tahun 1667 kemudian dapat izin mendirikan Loji atau benteng pertama Belanda. Kemudian mereka membangun pelabuhan di Batang Arau yang belakangan dikenal Pelabuhan Muaro. Inilah titik awal pertumbuhan Padang sebagai kota pelabuhan dan perdagangan.

2. BPUPKI Berganti Nama

Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) adalah sebuah badan yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan balatentara Jepang.

Badan ini dibentuk sebagai upaya mendapatkan dukungan dari bangsa Indonesia dengan menjanjikan bahwa Jepang akan membantu proses kemerdekaan Indonesia.

BPUPKI beranggotakan 67 orang yang diketuai oleh Dr. Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Radjiman Wedyodiningrat dengan wakil ketua Ichibangase Yosio (orang Jepang) dan Raden Pandji Soeroso.

Pada 7 Agustus 1945, Jepang membubarkan BPUPKI dan kemudian membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Lembaga ini diisi oleh 21 orang, sebagai upaya untuk mencerminkan perwakilan dari berbagai etnis di wilayah Hindia-Belanda, terdiri dari: 12 orang asal Jawa, 3 orang asal Sumatra, 2 orang asal Sulawesi, 1 orang asal Kalimantan, 1 orang asal Sunda Kecil (Nusa Tenggara), 1 orang asal Maluku, 1 orang asal etnis Tionghoa.

 

3. Kartosuwiryo Proklamasikan NII

Negara Islam Indonesia (NII) atau juga dikenal dengan nama Darul Islam (DI) adalah kelompok yang bertujuan untuk pembentukan negara Islam di Indonesia.

Ini dimulai pada 7 Agustus 1949 oleh sekelompok milisi Muslim, dikoordinasikan oleh seorang politisi Muslim, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampang, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Kelompok ini mengakui syariat Islam sebagai sumber hukum yang valid. Gerakan ini telah menghasilkan pecahan maupun cabang yang terbentang dari Jemaah Islamiyah ke kelompok agama non-kekerasan.

Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia yang saat itu baru saja diproklamasikan kemerdekaannya dan ada pada masa perang dengan tentara Kerajaan Belanda sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara.

Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara untuk membuat undang-undang yang berlandaskan syariat Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Alqur'an dan Hadits Shahih, yang mereka sebut dengan "hukum kafir".

3. Hari Lahir AJI

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) didirikan oleh sejumlah jurnalis dan aktivis pers. Pada 7 Agustus 1994, sekitar 100 jurnalis dan kolumnis berkumpul di Sirnagalih, Bogor, Jawa Barat mendeklarasikan AJI lewat penandatanganan "Deklarasi Sirnagalih".

AJI lahir sebagai perlawanan komunitas pers di Indonesia terhadap kesewenang-wenangan rezim Orde Baru. Pemerintah yang dikendalikan Suharto membelenggu pers.

 

Suharto (Wikipedia)

Majalah Detik, Tempo, Editor dibredel pemerintah pada 21 Juni 1994 karena kritis terhadap penguasa. Pemerintah Suharto mengontrol ketat pers dan menjadikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai satu-satunya organisasi pers.

AJI lahir juga sebagai perlawanan karena PWI saat itu dianggap menjadi alat kepentingan Soeharto untuk mengontrol pers dan tidak betul-betul memperjuangkan kepentingan jurnalis.

Masa Orde Baru, AJI masuk dalam daftar organisasi terlarang. Punggawanya pun harus melakukan operasi bawah tanah menjalankan organisasi.

Tiga anggota AJI yaitu Ahmad Taufik, Eko Maryadi dan Danang Kukuh Wardoyo ditangkap aparat dan dipenjara. Tapi itu justru membuat perlawanan makin menjadi-jadi hingga terjadi demonstrasi.

AJI diterima secara resmi menjadi anggota IFJ, organisasi jurnalis terbesar dan paling berpengaruh di dunia yang bermarkas di Brussels, Belgia, pada 18 Oktober 1995

Setelah Suharto tumbang di tangan rakyat, pers mulai bebas dan bertumbuhlah banyak media.

AJI terus berkembang dan kini tetap konsen memperjuangkan kemerdekaan pers, profesionalisme jurnalis, upah layak pekerja media, serta melakukan advokasi.

(Salman Mardira)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya