CIREBON - Pada tanggal 6 Agustus 1945, tentara Sekutu mulai menjatuhkan Bom Atom di kota Hiroshima, Jepang. Kemudian, dilanjutkan tanggal 9 Agustus 1945, kota Nagasaki pun mengalami hal serupa. Seketika kedua kota ini menjadi luluh lantak setelah mendapat serangan dari tentara Sekutu.
Peristiwa pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki tersebut, menyebabkan Jepang bertekuk lutut atau menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945, meskipun sebenarnya Jepang secara resmi menyerah pada tanggal 2 September 1945 di kapal Missouri.
Adanya berita tentang kekalahan Jepang dari Sekutu, seolah memberi angin segar kepada para tokoh pejuang untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Sutan Sjahrir. Ia merupakan tokoh pejuang bawah tanah, yang selalu memantau pergerakan situasi peperangan tentara Jepang melalui siaran radio.
Menurut salah seorang sejarawan asal Kota Cirebon, Jawa Barat, Mustaqim Asteja, setelah Sjahrir mendengar berita tentang kekalahan Jepang melalui siaran radio BBC pada tanggal Pada tanggal 14 Agustus 1945, Sjahrir kemudian segera menemui Soekarno untuk meminta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia saat itu juga. Akan tetapi, permintaan tersebut justru ditolak oleh Soekarno.
"Sjahrir segera menemui Bung Karno meminta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia saat itu juga. Akan tetapi Soekarno malah menolak permintaan dari Sjahrir. Penolakan dari Soekarno membuat Sjahrir kecewa," ujar Mustaqim saat berbincang dengan Okezone, Kamis (15/8/2019).
Diceritakan Mustaqim, Sjahrir memiliki argumementasi tersendiri terkait janji Jepang yang akan memberi kemerdakaan kepada Indonesia. Menurut Sjahrir, jika Indonesia menyatakan kemerdekaan melalui lembaga bentukkan Jepang, yakni PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), maka pihak sekutu akan menilai bahwa Indonesia merdeka atas buatan Jepang. Sedangkan, Sjahrir ingin agar Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia atas nama rakyat.
"PPKI sebagai badan bentukan Jepang yang bertugas menyiapkan kemerdekaan, tidak menunjukkan aktivitasnya akan berhenti bekerja. Sikap Soekarno dan Mohammad Hatta tersebut mengecewakan para pemuda yang sepakat dengan gagasan Sjahrir," tuturnya.