nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

74 Tahun RI Merdeka, Desa di Gowa Masih Gelap Gulita

Herman Amiruddin, Jurnalis · Minggu 18 Agustus 2019 18:59 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 18 609 2093544 74-tahun-ri-merdeka-desa-di-gowa-masih-gelap-gulita-SA1kfRhzNP.jpg Desa di Gowa belum dialiri listrik (Foto: Herman/Okezone)

MAKASSAR - Sebuah Desa terpencil di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan tak tersentuh pembangunan sejak negara Republik Indonesia merdeka dari penjajah.

Masyarakat Desa Parang Lompo yang berada di Kecamatan Bonto Lempangan sudah puluhan tahun tak menikmati listrik seperti daerah lainnya yang ada Indonesia.

Potret miris kehidupan masyarakat tidak tersentuh pembangunan hingga dihari ulang tahun RI ke-74. Desa yang terletak di dataran tinggi ini di huni oleh 213 kepala rumah tangga. Dengan jumlah penduduk 812 orang.

Desa di Gowa Belum Dialiri Listrik

Tokoh Masyarakat Yusuf Punai mengatakan masyarakat sudah merasakan kehidupan tanpa listrik sejak negara RI merdeka selama 74 tahun. Selain itu tingkat pendidikan masyarakat juga masih rendah faktor ekonomi yabg sering dialami masyarakat.

"Permasalahan yang besar dihadapi masyarakat selama 74 tahun harus rela hidup tanpa listrik. Demi bisa menerangi rumah kita terpaksa menyambung kabel kampung sebelah," kata Yusuf Minggu 18 Agutus 2019 saat ditemui.

Desa di Gowa Belum Dialiri Listrik

Selain itu, kata Yusuf masyarakat harus bergotong royong menyambung kabel ke kampung sebelah dengan berjalan kaki sejauh 5 kilo meter. Hal itu terpaksa dilakukan lantaran janji pemerintah tak kunjung terealisasi.

"Pernah ada bantuan pemerintah tapi hanya dilihat yaitu puluhan tiang listrik dipasang. Tapi belum ada kabelnya," kata Yusuf.

Desa ini terkenal dengan desa penghasil bambu, untuk bisa menjangkau desa ini, melalui jarak tempuh selama kurang lebih 3 jam dari kota Makassar. Tidak bisa ditempuh dengan kendaraan biasa malainkan dengan kendaraan roda dua yang sudah direnovasi.

Desa di Gowa Belum Dialiri Listrik

"Karena jalan di sini masih terbilang extrem. Banyak batu-batuan lepas," ujar Yusuf.

Tak hanya permasalahan listrik, jaringan telekomunikasi juga sulit diakses oleh penduduk yang selama 74 tahun dirasakan oleh masyarakat setempat.

Permasalahan itulah yang membuat masyarakat meninggalkan kampung halamannya dan memilih menjadi tenaga kerja ke negara tetangga demi menyambung hidup mereka.

Sementara seorang Siswi SMP Eka mengaku ikut merasakan kurangnya perhatian pemerintah. Dimana tempat mereka sekolah masih jauh dari perhatian pemerintah. Anak-anak harus sekolah di bangunan yang terbuat balok kayu tanpa dinding.

Desa di Gowa Belum Dialiri Listrik

"Iya sekolah terbuat dari balok kayu tanpa dinding," katanya.

Eka berharap ia bersama warga lainnya berharap agar kiranya pemerintah Kabupaten Gowa, bisa lebih memperhatikan kampungnya dan warganya.

"Agar kampung kami sejajar dengan desa lain. Yang paling utama adanya pembangunan di desa kami," ungkap Eka.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini