JAKARTA - Sandiaga Solahudin Uno enggan menanggapi banyak perihal video ceramah Ustadz Abdul Somad (UAS) yang belakangan viral lantaran dianggap melecehkan salah satu simbol agama. Namun ia meminta agar persoalan tersebut tidak dibesar-besarkan.
"Saya enggak berkompeten sih untuk berkomentar tentang ustadz Abdul Somad. Saya enggak memiliki kemampuan untuk berkomentar mengenai topik yang diangkat, itu ranahnya MUI," kata Sandi usai menghadiri diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (23/8/2018).
Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu meminta agar semua pihak menahan diri dan tidak terprovokasi. "Saya ingin kita sejukkan suasana, janganlah kita terlalu membesar-besarkan, mari kita terus merajut tenun kebangsaan kita," ungkapnya.
Baca Juga: Soal Tudingan Penodaan Simbol Agama, UAS: Saya Tak Perlu Minta Maaf
UAS sendiri sebelumnya sudah memberikan klarifikasi bahwa ceramahnya tersebut dalam konteks menjawab pertanyaan jamaah pengajian, bukan karena dibuat-dibuat oleh dirinya sendiri. Menurut UAS, ini yang harus dipahami dengan baik.
"Yang kedua, itu pengajian di dalam masjid tertutup, bukan di stadion, bukan di lapangan sepakbola, bukan di TV, tapi untuk intern umat Islam untuk menjelaskan pertanyaan tentang patung dan tentang kedudukan Nabi Isa Alaihissalam. Untuk orang Islam dalam Alquran dan Sunnah Nabi Shallallahu`alaihi Wa Sallam," ujar Ustadz Abdul Somad dalam sebuah video yang beredar di media sosial, Senin (19/8/2019).
Ketiga, sambung UAS, pengajian tersebut terjadi lebih dari tiga tahun lalu. Sebuah kajian subuh pada hari Sabtu di Masjid An-Nur Pekanbaru. Di mana, selepas pengajian selama satu jam akan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan jamaah.
"Kenapa diviralkan sekarang? Kenapa dituntut sekarang? Saya serahkan kepada Allah SWT. Sebagai warga yang baik, saya tidak akan lari, saya tidak akan mengadu, saya tidak akan takut, karena saya tidak pernah merasa salah," tutur Ustadz Abdul Somad.
UAS memastikan, isi ceramah yang disampaikan itu sama sekali tidak ada keinginan untuk merusak persatuan dan kesatuan bangsa.
(Edi Hidayat)