Kemudian Alex bekerja pada perusahaan fotografi milik Inggris di Bandung. Tidak lama di Bandung pindah lagi ke Jakarta. Di Jakarta Alex mendapat tawaran bekerja di perusahaan Jerman, yaitu Kodak di Jakarta juga menjual alat-alat fotografi. Saat kembali ke Jakarta inilah Alex berkenalan dengan keluarga Wowor orang Manado juga yang sudah lama tinggal di Jakarta.
Keluarga Wowor ini mempunyai seorang anak perempuan Emmy Agustina Wowor yang kelak menjadi Istrinya. Mereka menikah pada tahun 1929. Dari pernikahan mereka lahirlah dua orang anak, satu perempuan, Meity Mendur dan satunya lagi Iaki-laki yang diberi nama Lexi Rudolf Mendur.
Pada waktu itu Alex juga bekerja pada majalah Actueel Wereld Nieuws En Sport In Beeld sebagai fotografer, sekira 1931-1934. Majalah Sport in Bed ini juga terbitan harian de Java Bode. Pada waktu itu surat kabar tersebut dianggap terkenal karena terbit di Batavia dari abad ke-19 sampai dengan Perang Dunia ll. Pada usia 25 tahun tepatnya pada tahun 1932 Alex Mendur diterima bekerja pada harian De Java Bode sebagai wartawan foto.
Pada waktu itu di Jakarta juru potret hanya sedikit, hanya tiga orang, yaitu dua orang Belanda dan Alex Mendur sendiri. Bersamaan dengan diterimanya Alex bekerja, istrinya melahirkan seorang bayi mungil laki-laki pada tanggal 24 Maret 1932 dan diberi nama Lexi Rudolf Mendur.
Alex Mendur bekerja di De Java Bode tidak lama, hanya tiga tahun, 1932 -1935. Tapi selama bekerja di De Java Bode banyak pengalaman yang tidak dapat dilupakan dan merupakan kenangan tersendiri baginya. Alex ingat betul sewaktu mengabadikan meletusnya Gunung Merapi tahun 1933 di dekat Wonosobo, Jawa Tengah. Alex dengan kameranya memasuki daerah berbahaya agar dapat mengambil sasaran lebih dekat.
Tetapi pemerintah Belanda pada waktu itu sudah membuat peraturan keras "Barang siapa memasuki daerah berbahaya akan ditembak." Untunglah tentara yang menjaga daerah berbahaya itu orang Manado. Setelah Alex berbicara dengan tentara yang senapannya sudah siap itu, akhirnya Alex lolos dari peraturan itu.
"Besoknya foto-foto yang diabadikan Alex betul-betul menjadi pusat pembicaraan karena hasilnya bagus, setelah dimuat dalam harian De Java Bode," tulis Wiwik Kuswiah dalam Alexius Impurung Mendur (1986:17).