Arti Kemerdekaan di Balik Lensa Kamera Alex Mendur

Subhan Sabu, Jurnalis
Jum'at 23 Agustus 2019 07:13 WIB
Alexius Impurung Mendur (Foto: Subhan Sabu/Okezone)
Share :

Pengalaman lain yang dialami Alex, yakni pada waktu diundang untuk ikut dalam rombongan Gubernur Jenderal De Jonge ke Indonesia Timur. la banyak mengabadikan peristiwa- peristiwa penting. Gubernur Jenderal ingin segera melihat hasilnya, maka di kapal De Reggel dibuatlah kamar gelap.

Dalam keadaan serba darurat hasil foto-foto tersebut cukuplah di contact print saja, kamera film yang dipergunakan hanya berukuran 9 x 12 cm. Pada waktu itu Alex masih mempergunakan kamera yang sederhana yaitu kamera "Contesa Nette" tidak dilengkapi Range Finder (penemu jarak). Sehingga untuk menentukan jarak cukup dikira-kira saja.

Di De Java Bode, Alex juga sempat mendidik adiknya, Frans Soemarto Mendur menjadi juru potret pula. Sehingga dikemudian hari frans Soemarto Mendur lebih terkenal dalam mengabadikan detik-detik Proklamasi dan peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari pada kakaknya.

Frans orangnya pandai bergaul, tanpa pergaulan susah untuk mendapatkan hasil yang bagus. Oleh karena itu Frans memanfaatkan pergaulannya itu untuk mencari koneksi dengan tokoh-tokoh pergerakan pada waktu itu.

Karena Frans Soemarto Mendur pandai bergaul, maka Frans dimata para pejabat penting dapat dipercaya, dan sebagai petugas pers Nasional ia selalu menjunjung tinggi kode etik wartawan dengan sebaik-baiknya. Pada zaman Belanda juru potret dihargai. Mereka diberi semacam tanda atau press pending oleh polisi sehingga juru potret itu bisa bebas pergi kemana saja.

Alex pernah mengabadikan suatu peristiwa yang lucu yaitu ketika seorang tentara Belanda akan memberi hormat dengan pedangnya, begitu pedangnya akan dicabut macet. Dia marah- marah kepada ajudannya, ternyata pedangnya karatan. Kejadian tersebut sempat diabadikan Alex. Dan Alex tahu betul hal mana adegan yang mengandung nilai berita.

Ada hal yang menarik lagi sewaktu kunjungan Gubernur Jawa Timur ke Madura. Saat memberikan penghormatan, Gubernur mengangkat topinya tapi pada waktu memakainya kembali topinya terbalik. Alex tahu betul itu menarik. Tapi sayang Alex berdiri sejajar dengan Gubernur sehingga tidak sempat mengabadikannya.

Tiga tahun bekerja di De Java Bode, setelah kelahiran anaknya yang kedua Meity Mendur pada tanggal 2 Januari 1934 Alex Mendur pindah bekerja di perusahaan pelayaran Belanda KPM (Koninklijke Paketvaart-Maatschappij ). Masa inilah bagi Alex dirasakan yang paling bahagia. Karena kepandaiannya sebagai fotografer, yang hanya tamatan Sekolah Rakyat, Alex bisa diterima bekerja. Soalnya untuk bisa bekerja di KPM minimal harus lulusan Mulo.

Hal ini bisa dilakukan karena Alex telah berkenalan sebelumnya dan sudah menjadi teman dekat dengan Presiden Direktur KPM Meneer Evert. Di KPM Alex ditempatkan pada bagian publikasi dan reklame. Gajinya sebulan 85 gulden, cukup besar.

"Bayangkan harga beras pada waktu itu hanya 8 sen/liter, rokok selalu kalengan karena harganya hanya 6.3 sen. Dan dari gajinya itu Alex Mendur bisa mencicil mobil. Karena harga mobil pada waktu itu 300 gulden. Dengan gaji yang cukup besar itulah Alex bisa merasakan hidup tenang untuk membiayai dua orang anak dan istrinya. Ya kehidupan keluarga Alex pada waktu itu berkecukupan," kata Alex sebagaimana dikutip dari tulisan Wiwik Kuswiah dalam Alexius Impurung Mendur (1986:19).

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya