SEJAK kecil, Alexius Impurung Mendur senang dengan pelajaran Ilmu Bumi. Alex tertarik mengenai peta-peta bumi dan kepulauan yang ada di Indonesia, terutama sekali tanah Jawa. Hasrat pemuda kelahiran 7 November 1907 di Desa Talikuran, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara itu sangat besar untuk bisa merantau ke tanah Jawa.
Anak pertama dari 11 bersaudara ini sejak tamat pada Volkschool Gouvernement (sekarang namanya Sekolah Dasar sampai kelas 5) pada tahun 1918 tidak lagi melanjutkan karena ayah Alex tidak mampu untuk membiayai kehidupan keluarganya.
Sejak itu Alex Mendur berpikir jalan apa yang harus ditempuh untuk dapat meringankan beban orang tuanya. Karena sebagai anak laki-laki paling tua, ia mempunyai tanggung jawab pula terhadap kehidupan adik- adiknya.
Sampai tiba masa dewasa, Alex bersikeras mencari jalan lagi supaya tidak memberatkan beban keluarganya. Dalam keadaan bingung untuk mencari jalan keluar Alex mendengar kabar bahwa ada saudaranya dari tanah Jawa pulang ke Kawangkoan.
Mendengar berita itu Alex gembira sekali. Hasrat yang dipendamnya sejak kecil kembali menggelora. Alex ingin pergi ke tanah Jawa bersama saudaranya itu.
Saudara Alex bernama Anton Nayoan berasal dari Desa Tondegesan masih termasuk Kecamatan Kawangkoan bekerja sebagai karyawan pada perusahaan Belanda yang menjual alat-alat dan bahan-bahan keperluan dan perlengkapan fotografi. Melihat Alex mempunyai kemauan keras dan bakat yang tinggi yaitu ingin maju, Anton bersedia mengajak Alex ikut bersamanya mengembara ke tanah Jawa.
Sekira tahun 1922, dalam usia yang masih muda, 15 tahun, berangkatlah Alex bersama Anton. Di tanah Jawa, untuk pertama kalinya Alex mengenal dunia foto, karena Anton bekerja pada perusahaan Belanda yang membuka usaha dalam bidang fotografi. Alex diperkenalkan pada fotografi dan disuruh menekuni bidang teknologi yang masih baru pada waktu itu.
Pengetahuan yang Alex dapatkan dari Anton merupakan modal bagi kehidupan selanjutnya, memang benar dari fotografilah Alex hidup. Alex belajar fotografi mulai dari bawah, mulai dari mencuci film, mengeringkan, sampai siap jadi, dikerjakannya dengan sabar. Karena menurut Alex apabila seseorang mulai belajar dari bawah, maka ia dengan cepat akan menguasai kamera.
Belajar fotografi selama 6 tahun membuat Alex menguasai dan kian mahir. Karena sudah lama tinggal bersama Anton, Alex ingin sekali mempraktekkan hasil belajar fotografinya. Walaupun sambil belajar fotografi dan membantu Anton Nayoan bekerja, Alex juga mendapat penghasilan dari tempat Anton bekerja itu. Alex belajar fotografi sambil bekerja di perusahaan Belanda yang menjual alat-alat fotografi itu sampai tahun 1926.
Kemudian Alex bekerja pada perusahaan fotografi milik Inggris di Bandung. Tidak lama di Bandung pindah lagi ke Jakarta. Di Jakarta Alex mendapat tawaran bekerja di perusahaan Jerman, yaitu Kodak di Jakarta juga menjual alat-alat fotografi. Saat kembali ke Jakarta inilah Alex berkenalan dengan keluarga Wowor orang Manado juga yang sudah lama tinggal di Jakarta.
Keluarga Wowor ini mempunyai seorang anak perempuan Emmy Agustina Wowor yang kelak menjadi Istrinya. Mereka menikah pada tahun 1929. Dari pernikahan mereka lahirlah dua orang anak, satu perempuan, Meity Mendur dan satunya lagi Iaki-laki yang diberi nama Lexi Rudolf Mendur.
Pada waktu itu Alex juga bekerja pada majalah Actueel Wereld Nieuws En Sport In Beeld sebagai fotografer, sekira 1931-1934. Majalah Sport in Bed ini juga terbitan harian de Java Bode. Pada waktu itu surat kabar tersebut dianggap terkenal karena terbit di Batavia dari abad ke-19 sampai dengan Perang Dunia ll. Pada usia 25 tahun tepatnya pada tahun 1932 Alex Mendur diterima bekerja pada harian De Java Bode sebagai wartawan foto.
Pada waktu itu di Jakarta juru potret hanya sedikit, hanya tiga orang, yaitu dua orang Belanda dan Alex Mendur sendiri. Bersamaan dengan diterimanya Alex bekerja, istrinya melahirkan seorang bayi mungil laki-laki pada tanggal 24 Maret 1932 dan diberi nama Lexi Rudolf Mendur.
Alex Mendur bekerja di De Java Bode tidak lama, hanya tiga tahun, 1932 -1935. Tapi selama bekerja di De Java Bode banyak pengalaman yang tidak dapat dilupakan dan merupakan kenangan tersendiri baginya. Alex ingat betul sewaktu mengabadikan meletusnya Gunung Merapi tahun 1933 di dekat Wonosobo, Jawa Tengah. Alex dengan kameranya memasuki daerah berbahaya agar dapat mengambil sasaran lebih dekat.
Tetapi pemerintah Belanda pada waktu itu sudah membuat peraturan keras "Barang siapa memasuki daerah berbahaya akan ditembak." Untunglah tentara yang menjaga daerah berbahaya itu orang Manado. Setelah Alex berbicara dengan tentara yang senapannya sudah siap itu, akhirnya Alex lolos dari peraturan itu.
"Besoknya foto-foto yang diabadikan Alex betul-betul menjadi pusat pembicaraan karena hasilnya bagus, setelah dimuat dalam harian De Java Bode," tulis Wiwik Kuswiah dalam Alexius Impurung Mendur (1986:17).
Pengalaman lain yang dialami Alex, yakni pada waktu diundang untuk ikut dalam rombongan Gubernur Jenderal De Jonge ke Indonesia Timur. la banyak mengabadikan peristiwa- peristiwa penting. Gubernur Jenderal ingin segera melihat hasilnya, maka di kapal De Reggel dibuatlah kamar gelap.
Dalam keadaan serba darurat hasil foto-foto tersebut cukuplah di contact print saja, kamera film yang dipergunakan hanya berukuran 9 x 12 cm. Pada waktu itu Alex masih mempergunakan kamera yang sederhana yaitu kamera "Contesa Nette" tidak dilengkapi Range Finder (penemu jarak). Sehingga untuk menentukan jarak cukup dikira-kira saja.
Di De Java Bode, Alex juga sempat mendidik adiknya, Frans Soemarto Mendur menjadi juru potret pula. Sehingga dikemudian hari frans Soemarto Mendur lebih terkenal dalam mengabadikan detik-detik Proklamasi dan peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari pada kakaknya.
Frans orangnya pandai bergaul, tanpa pergaulan susah untuk mendapatkan hasil yang bagus. Oleh karena itu Frans memanfaatkan pergaulannya itu untuk mencari koneksi dengan tokoh-tokoh pergerakan pada waktu itu.
Karena Frans Soemarto Mendur pandai bergaul, maka Frans dimata para pejabat penting dapat dipercaya, dan sebagai petugas pers Nasional ia selalu menjunjung tinggi kode etik wartawan dengan sebaik-baiknya. Pada zaman Belanda juru potret dihargai. Mereka diberi semacam tanda atau press pending oleh polisi sehingga juru potret itu bisa bebas pergi kemana saja.
Alex pernah mengabadikan suatu peristiwa yang lucu yaitu ketika seorang tentara Belanda akan memberi hormat dengan pedangnya, begitu pedangnya akan dicabut macet. Dia marah- marah kepada ajudannya, ternyata pedangnya karatan. Kejadian tersebut sempat diabadikan Alex. Dan Alex tahu betul hal mana adegan yang mengandung nilai berita.
Ada hal yang menarik lagi sewaktu kunjungan Gubernur Jawa Timur ke Madura. Saat memberikan penghormatan, Gubernur mengangkat topinya tapi pada waktu memakainya kembali topinya terbalik. Alex tahu betul itu menarik. Tapi sayang Alex berdiri sejajar dengan Gubernur sehingga tidak sempat mengabadikannya.
Tiga tahun bekerja di De Java Bode, setelah kelahiran anaknya yang kedua Meity Mendur pada tanggal 2 Januari 1934 Alex Mendur pindah bekerja di perusahaan pelayaran Belanda KPM (Koninklijke Paketvaart-Maatschappij ). Masa inilah bagi Alex dirasakan yang paling bahagia. Karena kepandaiannya sebagai fotografer, yang hanya tamatan Sekolah Rakyat, Alex bisa diterima bekerja. Soalnya untuk bisa bekerja di KPM minimal harus lulusan Mulo.
Hal ini bisa dilakukan karena Alex telah berkenalan sebelumnya dan sudah menjadi teman dekat dengan Presiden Direktur KPM Meneer Evert. Di KPM Alex ditempatkan pada bagian publikasi dan reklame. Gajinya sebulan 85 gulden, cukup besar.
"Bayangkan harga beras pada waktu itu hanya 8 sen/liter, rokok selalu kalengan karena harganya hanya 6.3 sen. Dan dari gajinya itu Alex Mendur bisa mencicil mobil. Karena harga mobil pada waktu itu 300 gulden. Dengan gaji yang cukup besar itulah Alex bisa merasakan hidup tenang untuk membiayai dua orang anak dan istrinya. Ya kehidupan keluarga Alex pada waktu itu berkecukupan," kata Alex sebagaimana dikutip dari tulisan Wiwik Kuswiah dalam Alexius Impurung Mendur (1986:19).
Hingga tibalah masa awal penjajahan Jepang yang membuat kehidupan Alex Mendur dan keluarganya mengalami masa suram. Jepang masuk ke Indonesia untuk pertama kalinya melalui Tarakan, Kalimantan Timur pada tanggal 11 Januari 1942.
Selanjutnya Jepang dapat menguasai Balikpapan pada tanggal 24 Januari 1942. Dengan direbutnya Balikpapan Jepang berhasil menguasai sumber minyak yang paling penting bagi Jepang karena sangat diperlukan sekali bahan bakar bagi keperluan misinya.
Dengan caranya seperti gurita, Jepang dapat menduduki Pontianak pada tanggal 29 Januari 1942, menyusul pada tanggal 3 - 5 Februari 1942 kota Samarinda dan lapangan terbang Samarinda dapat dikuasai. Tujuan Jepang terakhir di Kalimantan adalah merebut Banjarmasin yakni pada tanggal 10 Februari 1942.
Dalam penyerbuannya ke Jawa, Pasukan Jepang berhasil melawan Belanda dan pada tanggal 1 Maret 1942 tentara keenam belas Jepang mendarat di tiga tempat, pertama di Teluk Banten, di Eretan Wetan (Jawa Barat) dan di Jawa Tengah, Kragan. Pada tanggal 5 Maret 1942 mendarat di Batavia (Jakarta).
Dengan masuknya Jepang di Jakarta maka Jakarta pada waktu itu sebagai kota terbuka, karena pihak Belanda tidak akan mempertahankannya. Maka kehidupan masyarakat pun berubah setelah Jepang masuk Jakarta. Semua kantor-kantor, pelabuhan dan tempat- tempat yang penting lainnya diambil alih oleh Jepang.
Alex kemudian ditunjuk oleh pemerintah Jepang menjadi kepala bagian fotografi kantor berita "Domei." Disinilah persahabatan Alex dengan Adam Malik terjalin. Keduanya akrab dimana Adam Malik pada waktu itu juga bekerja sebagai kepala bagian berita Indonesia di kantor berita "Domei."
Pada waktu itu, keduanya sama-sama hidup serba kekurangan, sehingga untuk mencari penghasilan tambahan Alex dan Adam Malik bekerja sama dengan berdagang jam tangan dan kamera. Pekerjaan tambahan ini cukup menyenangkan bagi keduanya, karena Jepang menyenangi dan ingin memiliki kamera "Leica" maupun jam tangan "Mido."
Kalau pasaran lagi sepi, Alex Mendur dan Adam Malik sering ke luar malam naik becak keliling Jakarta tidak tentu arah dan tujuan. Selama dalam perjalanan itu yang dibicarakan hanya tentang kamera dan jam tangan saja. Dari Adam juga Alex banyak mengetahui tentang perkembangan Jakarta.
''Bahkan apa yang pernah dibicarakan oleh Jepang itu tidak benar hanya membohongi rakyat," kata Adam Malik kepada Alex sebagaimana ditulis Wiwik Kuswiah dalam Alexius Impurung Mendur (1986:20).
Sebab pada waktu itu Jepang sering memberitakan kemenangan Jepang, padahal sebaliknya Jepang dalam keadaan menderita kekalahan. Disatu pihak Jepang sudah semakin terdesak oleh sekutu, dilain pihak Jepang sebaliknya malahan melakukan penekanan terhadap rakyat Indonesia, dimana dengan keluarnya peraturan gaji dalam tahun 1943 sangat rendah dibandingkan pada jaman Belanda.
Serikat buruh dibubarkan oleh Jepang, rakyat merasakan sekali kejamnya Kempetai/Polisi sehingga timbul perlawanan kaum buruh terhadap Jepang dengan bermacam-macam cara seperti memboroskan bahan-bahan dan alat-alat, malas bekerja, memperlambat jalannya kereta api. Hal ini mereka lakukan bersama-sama masinis, juru tulis, penjaga gudang dan lain-lain.
Baik rakyat miskin, para pelajar, kaum intelektual maupun para mahasiswa semua nerusaha menghindarkan diri dari bermacam-macam pendidikan yang diberikan oleh Jepang. Pelajar- pelajar tidak mau dicukur gundul. Tetapi semuanya tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut. Karena apabila seseorang menolak Kempetailah yang bicara dengan pukulan-pukulan. Dan mau tidak mau para pelajar harus masuk pendidikan militer.
Semua ini dilakukan Jepang untuk memperkuat tentaranya dalam melawan sekutu, termasuk Alex Mendur, ia masuk Barisan Pelopor. Alex menjadi Barisan Pelopor tidak lama karena kemudian ditunjuk menjadi fotografer dan menjadi Kepala bagian fotografer pada kantor berita Domei.
Ketika bom atom dijatuhkan sekutu di kota Hirosima dan Nagasaki, Jepang menerima kekalahannya. Berita menyerahnya Jepang kepada sekutu cepat tersiar ke seluruh dunia. Tetapi bagi daerah pendudukan Jepang sengaja diperlambat pemberitaannya. Karena Jepang takut akan adanya perlawanan besar rakyat terhadap Jepang. Tetapi akhimya Jakarta pun tahu pula tentang menyerahnya Jepang. Hal ini diketahui dari Kantor Berita Jepang Domei yang selalu menerima berita dari Tokyo.
Sudah menjadi pembicaraan umum bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu. Suasana Jakarta tambah hangat, secara beranting dari mulut ke mulut tersiar bahwa Indonesia akan merdeka dan terdengar pula berita adanya Proklamasi, ini tidak akan lama lagi. Hal ini diketahui hanya oleh bangsa Indonesia saja, dan dirahasiakan sekali terutama kepada orang Jepang.
Sebab dengan kejadian tersebut Jepang merasa terpukul oleh Sekutu. Setelah itu diadakan perundingan antara pemerintah Jepang dan pemimpin bangsa Indonesia terutama Soekarno- Hatta. Kemudian dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Tugasnya melaksanakan Kemerdekaan Indonesia dan mensahkan Rencana Undang-undang Dasar yang disusun oleh BPUPKI.
Pagi itu Jum'at keadaannya sangat cerah. Dimana sekelompok pejuang Indonesia dengan hati tegang dan berdebar sedang menantikan sesuatu yang sangat penting dan bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari itu tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 kurang lebih pukul 10.00 di Pegangsaan Timur 56 akan dibacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno - Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Sebagai wartawan foto Alex mengetahui adanya rencana Proklamasi dari Zahrudi, temannya yang bekerja di Domei. Alex tahu betul bahwa akan terjadi peristiwa bersejarah yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Oleh karena itu keesokan harinya pagi-pagi sekali Alex Mendur bergegas ke Pegangsaan Timur 56. Pada waktu itu Alex rumahnya di jalan Batu Tulis 42. Dengan mengendap-endap bersama adiknya, dengan sembunyi- sembunyi pula mereka menenteng kamera, agar tidak ketahuan oleh tentara Jepang.
Alex Mendur sebagai Kepala Bagian Foto Domei bersama adiknya Frans Soemarto Mendur yang bekerja sebagai wartawan foto pada Harian Asia Raya pergi ke Pegangsaan Timur. Di sana sudah banyak orang, sambil menunggu upacara dimulai kakak beradik itu mempersiapkan kamera. Pada waktu itu yang memotret hanya ada dua orang, Alex dan Frans saja. Keduanya mengabadikan peristiwa penting bagi Bangsa Indonesia dengan kamera merk "Leica."
Setelah tugas di Pegangsaan selesai, Alex cepat-cepat pulang kembali ke kantornya. Di sana langsung memproses filmnya. Betapa kecewanya Alex saat itu karena film yang sedang dikeringkan itu, hilang lenyap. Temyata Jepang telah merampas film tentang proklamasi itu. Tetapi untunglah adiknya Frans Soemarto Mendur lebih pinter dan cerdik, film yang ia bawa itu tidak segera diproses, tetapi disembunyikan dengan cara menanam atau mengubur film itu dalam tanah di halaman rumahnya dan baru diproses setelah keadaan aman.
Hasil liputannya sangat sederhana sekali, bersahaja dan nampaknya seperti asli dan tidak dibuat-buat, namun kini justru terasa abadi penampilannya. Tampak di sana Latief Hendraningrat bekas daidancho Peta sedang menggerek bendera merah putih di hadapan Soekarno - Hatta, ada Fatmawati berkerudung sebagai ciri khasnya. ltu semua terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56.
Siapapun orangnya yang meng- abadikannya saat bersejarah itu jasanya memang tak pantas dilupakan dalam memberikan sumbangan atas keberhasilannya saat meliput sasaran bersejarah terasa begitu besar dan mengandung nilai yang sangat tinggi. Mereka tidak menyangka bahwa hasil liputannya kelak akan dilihat oleh jutaan pasang mata dan menghias ratusan buku sejarah untuk mengingatkan kita sebagai generasi penerus, bahwa kejadian masa lalu itu memang ada dan patut dihargai dan kita boleh bangga akan hasilnya.
Tapi sayang karya yang dihasilkan dengan harga tak ternilai oleh kakak beradik itu jarang dicatat orang. Barangkali tidak banyak orang sempat bertanya siapa yang mengabadikan detik- detik bersejarah itu, sebagai karya jumalistik terbesar bangsa Indonesia.
Pada waktu itu pekerjaan potret memotret adalah lapangan pekerjaan yang langka, dan patut disayangkan seperti yang diungkapkan oleh Alex, bahwa banyak sekali negatif-negatif film peristiwa sekitar proklamasi hilang. Tidak tahu siapa yang mengambilnya. Jadi hanya beberapa saja yang sempat aman di bagian Arsip Departemen Penerangan dan Arsip Nasional.
Sejak saat itulah kakak beradik itu memutuskan untuk tetap bekerja di bidang foto dan mengabadikan peristiwa-peristiwa penting tentang perjalanan hidup bangsa Indonesia, terutama meliput tentang perjuangan republik, dan pengalaman itu ternyata titik awal yang baru bagi kehidupan Alex dan adiknya Frans, meski sebelum itu mereka sudah tidak asing dengan dunia potret memotret.
Alex banyak menghasilkan karya foto jurnalistik. Salah satu foto monumental lain karya Alex adalah foto pidato Bung Tomo yang berapi-api di Mojokerto tahun 1945. Foto monumental lain karya Frans Mendur adalah foto Soekarno yang menjemput Panglima Besar Jendral Soedirman pulang dari perang gerilya di Jogja, 10 Juli 1949.
Setelah setahun Indonesia merdeka, tepatnya 2 Oktober 1946, Alex dan Frans, “Mendur besaudara” bersama Justus dan Frans ‘Nyong' Umbas, “Umbas bersaudara”, juga Alex Mamusung, Oscar Ganda, dan Malvin Jacob, mereka kemudian mendirikan Indonesia Press Photo Service (IPPHOS). Mereka adalah pemuda-pemuda Minahasa yang tergabung di KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi). IPPHOS berkantor di Jalan Hayam Wuruk Nomor 30, Jakarta.
Piet Mendur, keponakan Alex dan Frans, generasi terakhir di IPPHOS, bergabung bersama mereka di awal tahun 1950-an. Saat itu usianya baru 17 tahun. Piet dipanggil ke Jakarta untuk menjadi wartawan di IPPHOS tempat Alex dan Frans bekerja.
IPPHOS punya peran penting di masa revolusi. Para fotografer handal asal Minahasa ini mengabadikan peristiwa-peristiwa penting di masa transisi itu. Yudhi Soerjoatmodjo, seorang fotografer dan kurator pemeran foto mengatakan, IPPHOS adalah revolusioner!
"Yang revolusioner dari IPPHOS bukan cuma pilihan mereka untuk berjuang membela republik, tapi cara mereka memperlihatkan hidup dengan mata dan hati yang terbuka lebar," kata Yudhi pada Temu Wicara IPPHOS Remastered Ivaa, Yogyakarta, 7 Maret 2014.
Menurut Yudhi, sikap revolusioner IPPHOS adalah perjuangan demi kemanusiaan dan kebenaran serta toleransi.
"Tapi yang paling revolusioner dari IPPHOS adalah bagaimana mereka mengguratkan cita-cita tentang Indonesia dan manusia Indonesia yang cerdas, moderen dan inklusif dalam karya-karyanya yang berjuang bukan cuma atas nama kemerdekaan dan keadilan bagi dirinya sendiri namun juga demi kemanusiaan, kebenaran, dan toleransi terhadap semua manusia," kata Yudhi.
Yudhi menunjukkan bagaimana sikap revolusioner “tole-tole” Minahasa ini di IPPHOS. Alex, kata Yudhi, adalah seorang profesional “ mencampakkan segala kenyamanan yang bisa ia capai sebagai pegawai Belanda demi membela sebuah republik kere.” Frans, ‘si pelarian politik membangun ketrampilan melawan penjajah justru dengan bekerja untuk penjajah. Justus Umbas, seorang akuntan serius, “yang diam-diam seorang aktivis yang ditakuti Belanda. Dan “Nyong” Umbas yang melawan Belanda dengan menjadikan Belanda kawannya."
Sampai akhir hayat, para ‘revolusioner’ ini tetap konsisten pada idealisme jurnalisme. Mereka tetap independen. Tidak memilih menjadi pegawai negeri pada Kementerian Penerangan RI, meski peluang itu sangat terbuka lebar. IPPHOS tetap independen, di kala kesempatan bagi Mendur Bersaudara terbuka luas untuk meraup lebih banyak uang dengan bekerja untuk media asing.
(Khafid Mardiyansyah)