Sementara di Penajam Paser Utara, tepatnya di daerah Sepaku, kata Murlianti, ada dua perusahaan raksasa yang memanfaatkan kayu di hutan untuk hasil kekayaan. Dua perusahaan raksasa tersebut yakni, PT ITCI Hutani Manunggal dan PT ITCI Kartika Utama.
"Di Penajam Paser Utara, tepatnya Sepaku ada dua raksasa IUPHHK (Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu) milik PT ITCI Hutani Manunggal (Komisaris Prabowo) dan Kartika Utama (Komisaris Hasyim) memakan area173.395 hektar. Pertanyaannya, sudah adalah riset yang komprehensif tentang minimal mapping sosial masyarakat di sekitar area ini?," tekannya.
Murlianti menyoal soal kajian pemerintah yang selama ini berkutat pada permasalahan lokasi ekstablis untuk dijadikan Ibu Kota. Namun, menurut Murlianti, pemerintah belum menyentuh riset pendahuluan yang mendalam dan komprehensif soal lingkungan.
"Misalnya, jika pesisir Balikpapan akan menjadi lalu lalang kegiatan ibukota, akan diapakan para nelayan gurem yang ada di sepanjang pesisir itu yang pasti akan tersingkir oleh hiruk -pikiuk ibukota??," tanyanya.
"Lantas, bagaimana peta awal masyarakat penyanggaanya? apa saja yang kemungkinan akan menjadi ancaman bagi eksistensi mereka? sama sekali belum diperhitungkan," kata Murlianti menambahkan.
Kalimantan Timur Dianggap Minim Konflik Rasial Sosial
Selain aspek lingkungan, pemerintah juga diminta memperhatikan aspek sosial di Kalimantan Timur. Sebab, akan banyak orang-orang baru dengan budaya yang berbeda masuk ke daerah Kaltim. Lantas, bagaimana aspek sosial di Kaltim?
Murlianti berpandangan, Kalimantan Timur merupakan daerah yang minim konflik sosial rasial jika dilihat dari segi sejarah akulturasi. Murlianti menyebut Kaltim berbeda dengan Sampit yang rawan konflik.