Kata Murlianti, potensi konflik antara kelompok lokal dan pendatang tidak dapat dipungkiri bisa saja terjadi dalam segi perebutan lahan. Hal itulah, yang mesti diantisipasi kedepannya oleh pemerintah ketika membangun Ibu Kota.
"Di sisi lain para pendatang kemudian juga membentuk komunitas-komunitas primordial serupa. Tak jarang konflik-konflik lahan antara penduduk lokal-pendatang, lokal-perusahaan, transmigran-perusahaan sering memunculkan ketegangan di Kaltim walaupun belum pernah ada sejarah konflik terbuka semacam Sampit," katanya.
Berdasarkan aspek demografi, Kalimantan Timur sendiri terdiri dari beberapa etnis yang di antaranya yakni, Dayak, Banjar, Kutai, Paser, Jawa, Bugis, Toraja, Sunda, Madura, hingga Buton.
(Rizka Diputra)