Dijelaskan Krisfianti, beberapa tantangan yang dihadapi dalam pengembangan kehutanan adalah: memperkuat kapasitas masyarakat, meningkatkan kesejahteraan, meningkatkan ketahanan pangan, dan menghentikan hilangnya hutan dan keanekaragaman hayati.
Menjawab tantangan ini, Krisfianti menyadari banyak kegiatan penelitian yang dapat dilakukan. “Berbagai hasil penelitian tentang agroforestri, paludikultur dan agro-silvofishery dapat diimplementasikan dalam menjawab tantangan perubahan ekosistem, keanekaragaman hayati pada hutan dan berbagai lanskap, perubahan iklim dan fungsi ekosistem, pemantauan keanekaragaman hayati di hutan pada berbagai skala spasial, dan menentukan penilaian keanekaragaman hayati. Selain itu perlu kita siapkan bagaimana penelitian keanekaragaman hayati di masa depan akan dilakukan”.
“Melalui konferensi ini, diharapkan akan ada peningkatan wawasan pengetahuan informasi bagi para peserta, peningkatan insentif untuk adopsi sains dalam pengelolaan keanekaragaman hayati, serta rekomendasi penelitian di masa depan. Selain itu, Kita harapkan juga terjadi peningkatan peran sains dalam pengelolaan hutan tropis dan konservasi keanekaragaman hayati, serta peningkatan komitmen kolaborasi penelitian di antara para pemangku kepentingan dalam pengelolaan keanekaragaman hayati,” tutup Krisfianti.
Mengambil tema “Innovative Solution for Managing Tropical Forest and Conserving Biodiversity to Support SDGs”, sebagai rangkaian INAFOR EXPO 2019, P3H BLI LHK menggelar plenary session untuk membahas penelitian terbaru serta pengembangan dan karya inovasi, yang berfokus pada serangkaian pengelolaan hutan tropis dan keanekaragaman hayati, perubahan iklim dan fungsi ekosistem, serta kebijakan dan tindakan untuk merumuskan penelitian masa depan.
Selain itu juga untuk memperbarui pengetahuan, teknologi dan inovasi, untuk meningkatkan peran ilmu pengetahuan, dalam pengelolaan hutan tropis dan konservasi keanekaragaman hayati. (ADV)
(Fahmi Firdaus )