Sisa-Sisa Bangunan Kolonial Belanda
Jika kita mulai dari Muara Padang akan bertemu Kantor Detasemen TNI AD. Gedung ini merupakan peninggalan zaman kolonial Hindia Belanda yang dulunya digunakan sebagai kantor, rumah tinggal, dan gudang.
Terdiri dari 3 bangunan. Dua bangunan terletak persis di tepi jalan dan satunya berada di belakang gedung. Gedung ini beralamat di Jalan Batang Arau Nomor 76, Kelurahan Berok Nipah, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang.
Kemungkinan bangunan ini dibuat sekira akhir abad 19. Kini gedung tersebut berada di Kompleks Detasemen Pembekalan dan Angkatan 1-44-05 TNI AD. Namun, gedung mengalami kerusakan parah akibat gempa 30 September 2009. Padahal, Gedung Kantor Detasemen TNI AD merupakan cagar budaya Kota Padang dengan nomor inventaris 29/BCB-TB/A/01/2007.
Arsitektur bangunan ini terlihat jelas bergaya kolonial dengan jendela dan pintu yang tinggi. Terdapat kaca bermotif di bagian depan bangunan. Kemudian mengadopsi gaya bangunan lokal terlihat dari atapnya.
Baca juga: Melirik Siola, Gedung Warisan Pemodal asal Inggris yang Masih Kukuh
Bersebelahan dengan Kantor Detasemen TNI AD, terdapat satu bangunan yang merupakan salah satu gedung yang memiliki arsitektur kolonial bergaya art deco. Terlihat jelas dari bentuk pintu, jendela, dan dinding depannya.
Gedung ini sudah ditetapakan sebagai cagar budaya Kota Padang dengan nomor inventaris 40/BCB-TB/A/01/2007. Sepertinya dulu digunakan sebagai kantor dan gudang saat pemerintahan Hindia Belanda.
Sekira 1950, bangunan ini dimiliki oleh PT Surya Sakti kemudian dibeli oleh Dr TD Pardede. Sekarang digunakan menjadi gereja.
Kemudian gedung tua yang saat ini menjadi kafe. Gedung dibangun pada 1933, seperti tulisan inskripsi, De Eeerste Steen Geleid op 14 Augustus 1933 door Tilly Hazevoet.
Baca juga: Kisah Jalan Braga, Kawasan Kota Tua di Bandung
De Javansche Bank sekarang museum Gedung Bank Indonesia Padang yang didirikan pada 1830. Gedung bergaya arsitektur modern (tropis) Indonesia yang berkembang sekira 1930–1940 ini menonjol dengan bagian puncak atapnya yang menyerupai atap masjid.
Kemudian Gedung NHM (Nederlansche Handels-Maatschappij). Gedung ini didirikan sebelum 1920 berarsitektur unik dan tak ada duanya di Kota Padang, bergaya arsitektur neo-klasik dari sekitar abad 20, gedung dengan tinggi 24 meter dan berdinding permanen ini atapnya berbentuk gambrel dengan dua cerobong pada puncak atap sebagai tempat sirkulasi udara.
NHM adalah kantor dagang swasta di mana dulunya juga berkantor beberapa perusahaan swasta, asuransi, dan perbankan. Kini bangunan ini hanya dijadikan gudang oleh PT Panca Niaga.
Gedung Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij atau disingkat NIEM adalah salah satu bank yang beroperasi pada zaman penjajahan Kolonial Hindia Belanda. NIEM ini didirikan pada 1857–1958 di Batavia. Pada 1949, berubah nama menjadi Escomptobank NV.