Beruntung kata Darwin ada Kapolrestabes Makasar memeluknya untuk diselamatkan dari amukan oknum-oknum polisi. Hingga berhasil keluar dari zona merah tempat mereka melampiaskan kemarahannya kepada mahasiswa
"Setelah itu saya dibawa kawan-kawan duduk sejenak lalu dilarikan ke rumah sakit Awal Bros Makassar," katanya.
Baca Juga: Demo Mahasiswa di Makassar Ricuh, Mobil Polisi Rusak Kena Lemparan Batu
Ternyata setibanya disana ada puluhan mahasiswa terkapar, sampai pihak rumah sakit pun terpaksa menjasikan ruang pelayanan sebagai unit gawat darurat, karena ruang IGD sudah penuh.
"Sampai saat ini kepala saya masih sakit, dan semua badan terasa lemah usai dirawat di Rumah,"
Darwin mengaku memaksakan menulis ini untuk meluruskan dan menyampaikan duduk persoalan sebenarnya, apakah perlakuan aparat harus sebrutal itu, apakah selama mereka dididik diajarkan bisa memukuli sodaranya sendiri.
Tidakkah penanganan mahasiswa bisa lebih baik dari pada harus refresif mengingat ini adalah agenda nasional yang menggerakkan hampir seluruh mahasiswa di Indonesia.
Mereka tidak bayar untuk aksi, tapi mereka mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Gerakan mahasiswa hari ini murni bukan bayar-bayaran yang biasanya diduga dilakukan oknum yang tidak bertanggungjawab untuk kepentingan kelompok dan golongannya.
"Dengan kejadian ini publik akan tergugah bahwa inilah fakta sebenarnya terjadi. Saya mohon maaf kalau ada salah kata, tapi ini adalah realita," ucap dia.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada konfirmasi resmi dari pihak kepolisian terkait adanya 3 jurnalis yang menjadi korban kekerasan aparat saat meliput aksi demo di Makassar.
(Fiddy Anggriawan )