JAYAPURA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua mengajak semua pihak menjaga kerukunan antaragama, suku dan ras di Papua sudah terjalin sejak lama, agar Bumi Cenderawasih tetap aman dan damai. Kerukunan ini jangan sampai terkoyak oleh hoaks atau provokasi untuk kepentingan sesaat.
"Saudara kita di luar Papua dan di Papua adalah satu keluarga, mesti kita menjaga," kata Ketua MUI Papua KH Saiful Islam Al Payage kepada wartawan di Jayapura, Rabu (2/10/2019)
"Di Papua ini sudah banyak sekali saudara-saudara kita asal dari mana pun lahir besar di sini, bahkan tidak mau pulang ke luar daerah, bekerja di sini, mengabdikan diri dan jiwanya di sini. Kerukunan yang sudah terjalin ini jangan sampai hoaks dan kepentingan-kepentingan sesaat memecah belah kerukunan yang sudah terjalin."
Saifuk meminta hentikan sebutan-sebutan yang menyinggung suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).
"Kita mesti setop bicara orang asli Papua dan pendatang. Kita istilah seperti ini mesti hentikan mulai detik ini," ujar dia.
Baca Juga: Geliat Kota Jayapura dan Harapan Damai Warganya
Menurutnya Papua masih bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sehingga siapapun warga Indonesia berhak hidup di Papua, tanpa harus membeda-bedakan warna kulit atau ras.
"Siapapun, warna kulit apapun, kalau dia warga Indonesia, dia adalah saudara kita sebangsa setanah air. Tidak ada istilah pendatang dan orang asli. Selama ini Papua bagian dari NKRI, maka kita adalah bagian dari saudara," ujarnya.