Para jawara saat itu memang banyak yang dibekali ilmu agama, karena kekuataan para jawara bukan hanya lewat ketahanan fisik, namun juga kekuatan batin. Para jawara akan membekali diri dengan ilmu agama agar menghasilkan kekuatan yang tidak tertandingi. Saat itu, jawara memang masih banyak yang memakai kekuatan tenaga dalam untuk melumpuhkan musuh.
"Kalau dulu kan, masih banyak yang pakai tenaga dalam. Itu mereka dapat kekuatannya bukan hanya latihan silat, tapi juga lewat pendalaman ilmu agama. Lewat zikir, doa, puasa dan ibadah lainnya" jelas Syafi'i.
Seiring berjalannya waktu, fungsi dari silat betawi mengalami perubahan. Jika di jaman pra-kemerdekaan silat digunakan jawara untuk mengalahkan musuh dan juga menjaga rumah orang kaya, saat ini silat betawi juga digunakan sebagai hiburan untuk pelestarian budaya. Salah satunya, tradisi palang pintu.
"Kalau jawara dulu itu sebagai penjaga dan penguasa kampung. Beberapa juga dipakai jadi centeng, yang jaga rumah orang Belanda atau warga pribumi yang kaya. Sekarang, selain untuk bela diri silat jadi hiburan dan tradisi seperti palang pintu" ujar Syafi'i.
Palang pintu sendiri merupakan tradisi pernikahan budaya betawi. Palang pintu dilakukan untuk membuka jalan bagi calon pengantin pria untuk bisa menemui calon pengantin wanita. Perwakilan jawara dari kedua pihak akan beradu silat untuk menentukan apakah calon pengantin pria diizinkan menemui calon pengantin wanita. Palang pintu tak hanyak menampilkan kehebatan jawara mengeluarkan jurus silat, tapi juga menunjukan kepiawaian berbalas pantun.
"Palang pintu sendiri menggabungkan dua budaya betawi, pantun dan silat. Dua orang perwakilan dari pihak perempuan dan laki-laki bertarung untuk menentukan boleh tidaknya pengantin laki-laki menemui pengantin perempuan" jelas Syafi'i.