"Saya akan bawa Dirjen saya ke Menteri Perdagangan dan menggelar workshop bersama mereka. Jadi komunikasi ekonomi dan diplomasi pertanian harus dilakukan secara timbal balik supaya tidak selalu bicara impor, akan tetapi lebih banyak bicara ekspor," katanya.
Adapun poin dalam pembicaraan ini, kata Syahrul, salah satunya ialah yang berkaitan dengan penerapan teknologi. Pemanfaatan teknologi bisa dilakukan untuk mengefisiensikan waktu dan menambah jumlah produksi.
"Misalnya dengan drone yang kita miliki penyiraman 500 hektar hanya membutuhkan waktu setengah jam karena mesin ini sudah menggunakan internet. Dan yang lebih penting, semua mesin dan teknologi ini buatan anak bangsa," katanya.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mendukung upaya Kementerian Pertanian dalam memanfaatkan teknologi sebagai bekal memperbesar jumlah produksi. Kata dia, langkah tersebut perlu mendapat dukungan baik melalui kerjasama maupun perancangan program starategis di sektor pertanian.
"Kalau melihat dari banyaknya mesin-mesin yang bagus ini, saya yakin produk dalam negeri bisa meningkat. Untuk itu, kita harus mendukung upaya ini melalui kerjasama yang startegis. Apalagi mesin-mesin pertanian ini merupakan karya anak bangsa," tukasnya. (adv) (Wil)
(Risna Nur Rahayu)