JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) masih belum memutuskan siapa bakal calon wali kota Solo yang akan diusung. Ada dua kandidat kuat yang digadang-gadang adalah Gibran Rakabuming Raka atau Achmad Purnomo.
Dua kandidat itu memiliki suara dukungan kader yang bisa dibilang sama kuat. Gibran merupakan anak Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sementara Purnomo, merupakan petahana yang sebelumnya telah direkomendasikan untuk maju Pilwalkot Solo.
Gibran telah mendaftar dan melakukan uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test. Tim penguji pun menganggap jawaban yang diberikan Gibran luar biasa. Namun, langkah Gibran tak mulus karena ada sebagian kader PDIP Solo yang menolak pencalonannya.
Baca Juga: Pilkada 2020, PDIP Akan Umumkan 44 Calon Kepala Daerah saat Rakernas
Purnomo sebagai petahana juga mengikuti fit and proper test. Sebelum deklarasi Gibran maju Pilwalkot Solo, Purnomo menjadi satu-satunya kandidat potensial untuk diusung PDIP, hingga sempat mengantongi tiket maju pilkada dari DPC PDIP Surakarta.
"Kalau popularitas Gibran memang kuat di Solo yah, persoalannya kalau lihat dari awal kan sebenarnya itu tarik menariknya sampai ke DPP kan," katanya pengamat politik, Jerry Sumampouw kepada Okezone, Minggu (22/12/2019).
Menurut Jerry, di DPC PDIP Surakarta sebenarnya Purnomo sudah direkomendasikan untuk maju sebagai calon Wali Kota Solo, namun setelah kemunculan nama putra Presiden Jokowi dianggap mengganggu konstelasi di Solo.
"Artinya, sejak awal partai punya calon sendiri lah yah. Khususnya wali kota, tapi sekarang udah merencanakan calon lain. Tiba-tiba Gibran muncul dan agak sedikit mengganggu konstelasi yang sudah diatur sejak awal yah," ucapnya.
Baca Juga: Ini Sikap Gibran jika Tak Dapat Rekomendasi PDIP Maju Pilwalkot Solo
Jerry menyarankan, agar di tubuh partai berlogo kepala banteng tidak gaduh, disarankan agar Purnomo dan Gibran dipasangkan sekalian. Sebab, jika tidak dilakukan maka tak tidak menutup kemungkinan bakal ada pihak lainnya yang memanfaatkan momen tarik menarik di internal partai.
"Jadi, kalau buntu untuk menentukan (Gibran atau Purnomo), (maka) Gibran akan mengalah papan 2 (wakil wali kota). Saya kira itu baik supaya di internal tidak goyang lah, sebab partai lain ikut memperkeruh dan memanfaatkan Gibran agar dapat posisi di Solo, karena PDIP di Solo sangat kuat," ujarnya.
Sinyal dukungan terhadap Gibran dari sejumlah partai politik terus bergeliat, termasuk dari DPP PDIP sendiri. Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto, menyatakan tetap membuka peluang Gibran maju sebagai calon wali kota Solo di Pilkada 2020. Hal itu menjawab aturan partai mengenai syarat maju sebagai calon kepala daerah minimal tiga tahun menjadi kader partai.
"Bahwa syarat kekaderan itu karena memang tugas partai untuk menyiapkan calon dari internal. Tetapi, ini adalah pemilunya rakyat sehingga kita harus melihat apa yang menjadi kehendak rakyat dan kemudian partai juga melakukan pemetaan politik," kata Hasto.
Sementara temuan Lembaga Survei Median menyebutkan, dari 100 persen pemilih dari PDIP yang memilih Purnomo sebanyak 43,7 persen, sedangkan yang memilih Gibran sebanyak 36,7 persen, lainnya sebanyak 13,1 persen, dan yang tidak menjawab 6,5 persen.
"Terutama di PDIP ada keterbelahan yang sangat besar di Kota Solo," ucap Direktur Utama Median, Rico Marbun di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin 16 Desember 2019.
"Konstituen PDIP terbelah di sini. Hampir separuhnya pilih Achmad Purnomo, hampir separuhnya juga pilih Gibran," ujarnya.
Survei dilakukan pada 3 sampai 9 Desember 2019 terhadap 800 responden warga Solo pemilik hak pilih. Survei menggunakan multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 3,5 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Dari potensi yang ada, keputusan akhir siapa yang akan diusung PDIP tetap ada di tangan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputi.
(Arief Setyadi )