Tamu undangan yang didominasi perempuan dengan pakaian kebaya harus menarik sedikit kain bawahan agar bisa berjalan cepat. Karpet merah yang menjadi tempat berjalan pun basah kuyup. Hingga sepatu-sepatu tamu undangan yang melintas tak luput dari rembesan air.
Putri-putri cantik yang menjadi Denok Kota Semarang hanya menggunakan plastik seadanya untuk menutupi kepala mereka agar tak basah. Mereka harus berjalan cepat namun tetap harus hati-hati agar tak jatuh terpeleset.
Meski hujan deras mengguyur, namun ada saja tamu undangan yang tak segera menepi. Sambil mengenakan payung, dia asyik mengabadikan orang-orang yang berlarian menggunakan kamera ponsel. Sesekali dia melayani permintaan tamu undangan lain yang ingin berfoto.
“Ini baru sebentar dibuka (acaranya), sambutan Menteri PPPA juga tidak begitu jelas. Apalagi ini kondisi hujan deras, jadi peserta bubar,” ujar seorang tamu undangan Qonaah dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
“Menurut saya ke depan harusnya diperhatikan keadaan cuaca, apalagi dengan mendatangkan RI 4 (istri Wakil Presiden) harus diperhatikan. Harus ada tenda,” katanya sambil mberjalan meninggalkan lokasi tanpa mengikuti acara yang berpindah ke dalam gedung.
“Saya kecewa dengan penyelenggaraan ini, karena harusnya ini sudah jauh-jauh hari sudah matang-matang dipersiapkan, apalagi musim hujan seperti ini,” imbuhnya.
Ditemui usai acara, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyatakan, hujan tersebut merupakan berkah. Meski tamu undangan sempat bubar, namun acara bisa kembali dilanjutkan dngan berpindah lokasi.
“Hujan ya enggak apa-apa. Hujan itu kan rezeki. Kemarin kita kemarau Salat Istisqa (memohon hujan). Plan B kan sukses, dari sana langusng ke sini (berpindah),” kata Ganjar.
(Arief Setyadi )