SOLO - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar mengaku tengah fokus melakukan Rehabilitas Hutan dan Lahan (RHL) di wilayah rawan bencana.
Menurut Siti, tantangan LHK saat ini semakin berat dengan turunnya daya dukung Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menyebabkan banjir, longsor, erosi, dan bencana hidrologi lain di berbagai daerah.
Hingga akhir tahun 2019 lalu, KLHK melalui Ditjen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung PDASHL fokus pada kegiatan penyediaan bibit untuk RHL.
Di tahun tersebut, telah terbentuk sebanyak 561 Kebun Bibit Desa (KBD) yang menghasilkan 23,5 juta batang bibit, 1.500 Kebun Bibit Rakyat (KBR) yang menghasilkan 50,9 juta batang bibit, Persemaian Permanen sebanyak 50,2 juta batang, bibit produktif sebanyak 4,6 juta batang, dan Macadamia sebanyak 650 ribu batang.
Baca Juga: Rehabilitasi Lahan Longsor di Bogor, BNPB Akan Tanam Vetiver
''Keterlibatan masyarakat dalam rehabilitasi ini sangat penting, karena ratusan juta bibit ini benar-benar harus ditanam, itu yang terpenting,'' kata Menteri Siti Nurbaya.
Untuk kegiatan RHL tahun 2020, KLHK melalui Ditjen PDASHL akan membangun 1.000 unit KBR, 500 unit KBD, 3.000 unit bangunan konservasi tanah dan air, membangun persemaian modern di Ibukota Negara Baru dan 4 destinasi wisata prioritas.
''Lakukan segera kerja terutama di areal bencana, termasuk kegiatan pasca bencana seperti membangun DAM penahan, gullypug, bronjong pengendali tebing sungai, serta dengan menanam vetiver dan agroforestry,'' kata Menteri Siti.
Baca Juga: Rehabilitasi Hutan, Presiden Jokowi Tanam Pohon Pulai di Taman Nasional Gunung Merapi
Pemaparan itu dijabar Menteri Siti saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) KLHK di Yogyakarta. Pada sesi hari pertama Rakornas KLHK, Menteri Siti Nurbaya dan Wakil Menteri Alue Dohong memimpin langsung diskusi dengan lebih dari seribu peserta yang berasal dari seluruh Indonesia.
Para Dirjen KLHK memaparkan dua sesi utama yakni pemulihan lingkungan dan rehabilitasi, serta TORA dan Perhutanan Sosial.