MALANG - Di tengah ditemukannya dua pasien positif corona, kebutuhan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis yang menangani di Kota Malang diakui masih cukup terbatas.
Wakil Direktur RSUD Saiful Anwar (RSSA) Syaifullah Asmiragani mengakui bila masih kesulitan mendapatkan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis yang menangani pasien corona.
"Kami sedikit ada kesulitan alat pelindung diri (APD). Di pasaran sudah langka, ada pun nilainya naik 300 persen. Namun sejauh ini kami masih menjamin (kebutuhan APD) petugas medis di ruang penyakit infeksi Re-Emerging masih tercukupi," ungkap Wadir RSSA Syaifullah Asmiragani, pada Rabu (18/3/2020) saat konferensi pers.
Guna menyiasati keterbatasan APD ini, rumah sakit milik Pemprov Jawa Timur terpaksa mengurangi sejumlah pelayanan pada kasus - kasus pembedahan yang membutuhkan APD.
"Kami siasati dengan melakukan penurunan jumlah pelayanan di beberapa kasus pembedahan. Kami utamakan yang emergency (darurat), yang bisa ditunda. APD - nya kita manfaatkan di ruang isolasi," tuturnya.
Kini guna memenuhi kebutuhan APD, segala cara ditempuh pihak RSSA, mulai dari memodifikasi dengan menjahit APD khusus yang bisa digunakan tenaga medis hingga meminta tambahan APD ke Kementerian Kesehatan.
Baca Juga : Imam Nahrawi Ungkap Dugaan Pengamanan Kasus di Kejaksaan Sebesar Rp7 Miliar
"Kami lagi cari terobosan menjahitnya, karena alatnya ini khusus untuk APD yang menutupi kepala sampai kaki. Maka rekanannya (pembuatan APD) khusus," pungkasnya.
Di RSUD Saiful Anwar sendiri kini tengah merawat tiga pasien di ruang isolasi, satu pasien di antaranya dinyatakan positif Covid-19 atau virus corona. Sedangkan dua pasien yang baru masuk, masih berstatus dalam pengawasan, dimana sampel swap-nya telah dikirim laboratorium Balitbangkes Surabaya.
(Angkasa Yudhistira)