"Itu konsekuensi dari sangat terbatasnya kapasitas tes dan pengawasan yang lemah, dan itu kenyataannya," kata Mark Simmerman, seorang konsultan kesehatan di Thailand dan bekas pakar epidemiologi bagi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) AS yang pernah menangani respon kawasan itu terhadap wabah Sindrom Pernapasan Akut Parah (Severe Acute Respiratory Syndrome/SARS) pada 2003.
"Angka yang sangat kecil itu tidak realistis," katanya.
Sementara Indonesia, Malaysia dan Thailand, masing-masing telah melaporkan ribuan kasus, meskipun disana sebagian pakar kesehatan mengeluh. Di Indonesia, kepala Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla mengatakan kemungkinan ada infeksi jauh lebih banyak dibanding yang dilaporkan negara itu, karena tes yang rendah.
(Rachmat Fahzry)