KUPANG - Polemik karantina seluruh penumpang dan anak buah kapal (ABK) KM Lambelu di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berlanjut, pasca-dipastikan tiga kru kapal milik Pelni itu positif Covid-19.
Pemerintah Kabupaten Sikka memutuskan untuk tidak mengizinkan kapal tersebut bersandar di Pelabuhan Lorens Say Maumere. Pertimbangan itu diambil dengan mempertimbangkan kondisi keterbatasan sarana dan prasarana serta paramedis di daerah tersebut.
Kondisi itu akhirnya membuat sejumlah penumpang melompat ke laut yang diduga panik dan ketakutan. Khawatir kondisi ini kian parah dan akan menimbulkan banyak korban, Anggota DPRD NTT Eman Kolfidus meminta Pemerintah Pusat melalui Gugus Tugas Penanganan Covid-19 untuk ambilalih penanganan.
"Kalau memang karantina terpusat di Sikka masih jadi polemik di antara masyarakat, saya mengusulkan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 bisa ambil alih penanganan persoalan ini," kata Eman kepada Okezone melalui telepon dari Maumere ibu kota Kabupaten Sikka, Selasa (7/4/2020), menjawab sikapnya selalu wakil rakyat untuk persoalan ini.
Baca Juga: 3 ABK KM Lambelu Diduga Positif Corona, Seluruh Penumpang Dilarang Turun ke Dermaga
Anggota Komisi V DPRD NTT yang membidangi kesehatan itu meminta agar jika dimungkinkan pemerintah pusat melalui Gugus Tugas segera mengambil alih masalah ini agar tak menimbulkan banyak korban.
Dengan segala kewenangan dan fasilitas yang dimiliki Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Eman mendorong para penumpang dijemput dan dievakuasi untuk dikarantina di Pulau Galang yang dibangun pemerintah.