LAPORAN Global 2020 tentang krisis makanan yang diterbitkan oleh Program Pangan Dunia (WFP), Organisasi Pangan dan Pertanian (FPO) dan 14 lembaga lainnya, menyebutkan bahwa virus corona bisa menyebabkan peningkatan kasus kelaparan di dunia.
Pasalnya, pandemi virus corona yang menyebabkan penyakit COVID-19 telah menghancurkan ekonomi dunia, karena sejumlah negara menerapkan karantina wilayah alias lockdown.
Sesuai pedoman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemerintah di dunia dianjurkan menerapkan protokol lockdown guna menahan laju penyebaran virus corona.
(Baca Juga: Pimpinan Gerindra Bela Jokowi soal Perbedaan Mudik dan Pulang Kampung)
India, negara berpenduduk sekira 1,3 miliar, menerapkan lockdown pada 25 Maret hingga 3 Mei. Akibatnya, jutaan buruh dengan gaji harian kehilangan pekerjaan mereka. Para buruh juga berjalan kaki ratusan kilometer menuju ke desa asal mereka.
Indrajeet, buruh pabrik sepatu di Mumbai, India, pada awal protokol lockdown diberlakukan, hanya meminum air untuk bertahan hidup.
"Saya hanya minum air di hari-hari awal lockdown ketika saya merasa lapar," kata Indrajeet menyitir Al Jazeera. "Selama beberapa hari terakhir, saya setidaknya berhasil makan sekali sehari," ujar dia lagi.
Dia mengatakan pemilik pabrik sepatu mematikan teleponnya ketika lockdown diterapkan.
Dampak aturan lockdown, banyak para pekerja bekerja dari rumah, transportasi dihentikan, penutupan sektor usaha, hingga mewajibkan warga untuk tinggal di rumah, dan hanya keluar untuk urusan penting, seperti membeli makanan dan obat.
Laporan WFP mengatakan, sebelum ada pandemi COVID-19, 135 juta orang di dunia menderita kelaparan parah. Angka ini bisa berlipat ganda jika tidak ada tindakan cepat dan kuat dalam mengatasi virus corona.