PANDEMI Covid-19 membuat masyarakat tak bisa lagi berdekatan secara fisik. Namun, hati banyak pihak tergerak untuk turut serta dalam penanganan Virus Corona.
Banyak cara dilakukan masyarakat untuk menggalang donasi, dari mulai menyumbangkan alat pelindung diri (APD), hingga menyumbangkan sejumlah dana ke Pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.
Hingga Minggu 26 April 2020, Gugus Tugas berhasil menghimpun USD77,49 juta atau setara dengan Rp1,193 triliun. Bantuan itu dikumpulkan dari sembilan negara, sembilan organisasi internasional, dan 70 organisasi non-pemerintah yang memberikan dukungan untuk penanganan wabah virus SARS CoV-2 tersebut.
Indonesia juga mendapatkan bantuan material kesehatan berupa APD, ventilator, RT-PCR dan reagen, thermometer dan virus transport medium (VTM). Dari bantuan tersebut, masker, rapid test dan APD merupakan jenis bantuan paling banyak diterima oleh Indonesia.
Selain disumbangkan melalui organisasi resmi pemerintah, banyak pihak pula yang menyumbangkan harta dan tenaganya untuk membantu warga yang terdampak corona di jalan.
Sumbangan sembako dan makan siang paling mendominasi bantuan dari masyarakat di jalanan. Mereka langsung membagikan bantuan tersebut kepada tukang ojek online, pemulung, penyapu jalanan, tukang becak hingga masyarakat yang penghasilannya terdampak Virus Corona.
Gepeng Jadi Membeludak
Tak selamanya bantuan dengan turun ke jalan membawa efek positif untuk masyarakat, di Yogyakarta misalnya. banyaknya bantuan sosial yang dilakukan beberpa komunitas atau perusahaan di tengah pandemi corona di jalanan, memicu membanjirnya gelandangan dan pengemis (gepeng), serta pemulung.
Kepala Satpol PP Kota Yogyakarta, Agus Winarto, mengatakan gepeng sempat terlihat memenuhi sepanjang Jalan Malioboro beberapa waktu lalu, namun kini sudah dilarang.