"Ya mungkin karena saya punya usaha isi ulang, jadi dianggap mampu. Padahal sekarang lagi seret karena imbas dari PSBB," paparnya.
Penerapan PSBB juga mempersulit pengusaha menengah. Ketua Paguyuban Pedagang Buah wilayah Tanjung Sari, Surabaya, M Lukman, menyebut seharusnya untuk memperpanjang PSBB harus dipikirkan ulang.
"Kalau PSBB yang pertama gagal, kenapa ada PSBB kedua. Ini sama saja dengan mengulang kegagalan. Selama masa PSBB, pedagang buah malah merugi. Karena barang yang keluar masuk, durasinya dibatasi dengan batas jam operasional," papar Lukman.
Padahal, lanjut Lukman, buah berpotensi busuk jika tidak cepat habis. Dalam kondisi pandemi corona seperti ini, semua sektor ekonomi memang sebagian besar jatuh. Tapi, pemerintah diharapkan tidak menambah beban lagi.
"PSBB itu beban bagi kami. Kalau seandainya, PSBB kemarin itu sukses, kasusnya bisa berkurang, kita ikut saja. Tapi kalau gagal, kenapa diulang lagi? Kita terlanjur rugi nggak jualan maksimal. Ini sangat merugikan masyarakat kecil," tandas Lukman.